Five Things We Learned From LFC vs Udinese

The Same Old Story of Liverpool FC

Masalah utama LFC bukan di depan, tapi di belakang

Ketika musim baru dimulai, tidak banyak yang membicarakan lini belakang LFC. Pemain-pemain baru dan incaran pun berposisi sebagai pemain tengah dan depan. Nyatanya, lini belakanglah yang menjadi masalah paling kritis saat ini. LFC sudah kemasukan 20 gol dari 13 pertandingan resmi. Melawan Udinese kemarin, 3 gol yang tercipta untuk Udinese adalah kesalahan sendiri. Bagaimana bisa menang mudah jika setiap pertandingan, LFC cukup permisif dengan memberika 2-3 gol gratis kepada lawan? Permasalahan bukan di personel yang kurang berkualitas, tapi sepertinya lebih pada kecerobohan dan kemalasan para pemain itu sendiri. Walau begitu, pada beberapa kesempatan, Carra terlihat terlalu lambat untuk bermain pada sistem Rodgers yang memakai defensive line yang tinggi.

Shelvey: “Sahin, I’ll have my spot back when i get back. i score when i want!”

The goals are coming

LFC mencetak 16 gol dalam 6 pertandingan terakhir ata 2,67 gol per pertandingan. Para pemain tampaknya mulai percaya diri untuk mencetak gol, termasuk Suarez, yang sebelumnya seperti frustasi dengan form goalscoring recordnya. Shelvey dan Sahin juga menjelma menjadi goalscoring midfielder, membantu Gerrard. Bahkan Coates dan Wisdom terlihat cukup mengerikan saat corner. Ini sesuai dengan prinsip Rodgers bahwa setiap anggota tim punya kewajiban untuk mencetak gol bagi LFC. Masalahnya tinggal Borini saja yang tampaknya mulai terbebani ekspektasi orang serta cedera yang sempat mengganggu.

All claiming Their Spot

Selection headache for Rodgers

Brendan Rodgers now having a dilemma he didin’t expect to have at the start of the season. Siapa yang menyangka para pemain muda LFC hampir semuanya seperti sudah siap masuk tim utama. Suso, Sterling, Shelvey, dan Wisdom bahkan rasanya bisa dimasukkan sebagai pemain inti LFC, and they just started playing this season!! Para pemain senior seperti Downing, Joe Cole, dan Enrique yang sebelumnya seperti mendapat garansi bermain, sekarang harus mulai berpikir ulang. Rodgers tidak peduli harga £20 juta Downing untuk “membuangnya” sebagai pemain Europa League dan Piala Liga saja. Joe Cole mungkin tidak lebih baik.

Borini needs to find the net, and soon.

Borini needs to find his form, and quick.

Satu lagi pemain senior yang terancam posisinya adalah Fabio Borini. Pada awal musim, Borini pasti masuk starting line up setiap prediksi pengamat maupun fans. Tapi sekarang? Sterling-Suarez-Suso, begitu yang sering terlihat. Borini mendapat cedera pada saat yang benar-benar kurang menguntungkan untuknya. Belum lagi bila Yesil dan Morgan dapat menarik perhatian Rodgers. Bisa dipastikan Borini akan makin tersingkir.

LFC’s passing diagram

Udinese’s passing diagram

Death by Football is real, and scary

Seandainya Udinese kemarin kalah dengan 2-0 atau lebih, maka saya yakin banyak headlines surat kabar yang mencamtukan tulisan “Death By Football”, yang diambil dari quote Brendan Rodgers. Mengherankan bahwa LFC memiliki 75% possession dan masih kalah. Menurut statistik, Rodgers pernah berkata, bahwa tim yang unggul possession maka 70% akan memenangkan pertanding. Well, sayangnya LFC adalah yang 30%-nya. Nasib buruk masih terus berada di atas Anfield. Sepanjang pertandingan, Udinese dipaksa bermain setengah lapangan saja. Namun tim-tim Italia sudah turun-temurun mempunyai mental baja dalam bertahan. Lihat saja kemenangan Inter Milan atas Barcelona beberapa tahun lalu.

—————————————————————————————————————————————————-

Kesimpulannya, pelan tapi pasti, para pemain mampu memahami sistem yang coba dijalankan Rodgers. Tapi sistem ini butuh pemain-pemain yang tepat, dari kiper sampai striker. Kecerobohan dalam bertahan dan diikuti dengan kemalasan mengejar bola ketika hilang (ditambah ketidakberuntungan LFC) akan selalu berujung pada kekalahan. Stoke sudah menunggu esok hari, dengan tipe permainan unik. Apa LFC akan memberi gol gratis lagi pada Crouch dan Adam? We’ll see.

image from: propaganda.photoshelter.com, StatsZone app on iPhone

Advertisements

12 responses to “Five Things We Learned From LFC vs Udinese

  1. tidak adanya DM membuat pemain lawan langsung berhadapan dengan 4 bek Liverpool, sehingga menjadi bukan hal yang aneh apabila CB Liverpool kewalahan dan akhirnya melakukan kesalahan sendiri, Semoga lini tengah dapat lebih menjaga 4 bek di belakang mereka

  2. 2 gol dari udinese (gol ke-1 n ke-3) disebabkan lubang di sisi kanan pertahanan LFC yg ditinggalkan glenjo overlapping. Hal ini diperparah tidak adanya DM C sepeninggal lucas. Hendo msh perlu belajar banyak ttg posisi barunya terutama ttg game reading.
    Udinese memberikan pelajaran bhw LFC kesulitan menembus pertahanan catenaccio atau bus parking.
    Memang sistem tiki taka ala rodgers memiliki kelemahan fatal bila lawan mengandalkan counter attack cepat.
    Perlu pemahaman n pembenahan sistem permainan yg diinginkan BR.

    • Gol pertama karena glenjo mispass,gol ketiga karena gerrard mispass. Kedua gol juga karena LFC sbagai tim tidak segera bertahan.

      Saya sendiri berpikir bahwa Henderson bermain baik dan bisa jadi pelapis yang bagus utk Lucas.

      Lawan Udinese juga saya pikir malah menjadi bukti bahwa kita mampu. Hanya lini bertahan yg terlalu leaking.

      • Hendo memang bermain bagus. satu yang pasti, ketika hendo dan allen yg main, liverpool lebih sabar. Kesalahan passing jadi minimal.

  3. full back lfc hrs mmpunyai kemampuan bertahan yg lebih baik dan cepat kembali ke posisi jika serangan balik. Pada saat vs udinese glenjo beberapa kali salah passing, lalu serangan balik dari sayap kiri udinese. Pada saat vs norwich, gol jg tercipta dari skema serangan balik dari sayap.

    • Sebenarnya salah satu masalah adalah BR masih coba-coba pemain di lini belakang. Sedangkan kekompakan bisa jadi butuh chemistry dan waktu bermain yang cukup.

  4. gimana kalo pasang 3 CB coates agger dan skrtl tapi agger dipasang lebih ke LB dan RB adalah glenjo , mungkin ini bisa juga asalkan sering dimainkan dan dilatih.

  5. Kalau mengingat kembali apa yg dikatakan sang legend Dietmar Hamman berikut ini: ” If you go without a clean sheet for so many games its not down to personnel but mentality you have to enjoy defending #BRsbiggestchallenge” rasanya benar! Bukan hanya masalah pemahaman defensive line yang tinggi saja yg harus ditingkatkan kinerjanya. Tetapi juga para pemain yg tidak memiliki mental yg baik untuk menang ataupun mempertahankan pertandingan disaat unggul lebih dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s