Batas Kesabaran Sebagai Fans Liverpool

5 pertandingan tanpa meraih kemenangan satu pun merupakan sebuah ombak besar yang menghantam para nelayan yang selalu tenang dan memiliki rasa optimis akan mendapatkan ikan, sekejap berubah menjadi bajak laut yang berteriak sekuat tenaga demi memperjuangkan kebahagian mereka sendiri.

Ombak besar adalah suatu gambaran untuk apa yang ada dilakukan Brendan Rodgers yang tidak satu pun meraih kemenangan dalam 5 pertandingan terakhir. Kenapa pelatih? karena jika harus diurutkan dalam sebuah diagram maka akan menemukan sebuah subjek terakhir yang dianggap paling bersalah yaitu pelatih. Pemain? Merupakan faktor penyebab itu semua, mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Misalnya, ketika Reina maju dari gawang untuk menghalau pergerakan Aguero yang jika di analisa posisi nya belum one on one dengan kiper. Reina disalahkan? Ya! Rodgers? Ya! Padahal Rodgers tidak berteriak kepada Reina untuk maju atau mengarahkan bidikan senapan kepada Reina jika ia tidak maju untuk menghalau Aguero. So, kenapa Rodgers kena dampak dari tindakan menekan segitiga yang terlalu lama tersebut (fifa) ? Karena seorang pelatih mau berdalih apapun pasti akan ada sebuah lubang walaupun itu kecil untuk menyalahkan sang pelatih.

Bagaimana dengan nelayan? Itu adalah fans. Yang tenang tenang saja awal nya menyerukan “YNWA” ketika kalah atau berteriak menyanyikan “We Won It Five Times” ketika banter dan selalu optimis bahwa tahun depan tahun depan tahun depan…(yaa begitulah) akan menjadi tahun nya Liverpool. Fans yang tadinya diam akhirnya mengeluarkan kata kata “TAXI FOR BRENDAN?” sebuah kalimat yang jika diucapkan secara frontal adalah “BRENDAN OUT!” Wajar saja seperti itu, demi sebuah kebanggaan terhadap tim yang dicintai nya dan ingin melihat tim itu sukses tindakan seperti itu akan terlintas dalam pikiran mereka.

Jika menjadi seorang realistis menyakitan. Maka, jadilah pengenang

sebuah quote sindiran dari seorang teman yang sama sama menyukai Liverpool juga. Mungkin banyak ejekan bahwa menjadi seorang fans Liverpool berarti dia akan menyukai pelajaran sejarah. Jika harus realistis mari kita lihat apa yang terjadi sebenarnya.

Awal kedatangan Rodgers ke Liverpool kita memiliki data bahwa Swansea tim yang sebelumnya ia tangani bermain possession football yang baik sampai mendapat sebutan “Swanselona” atau apalah itu yang pasti ditambahkan dengan “Lona” dibelakang nya. Ekspetasi kita adalah bahwa kita akan bermain possession football juga. Hasilnya? Sempurna. Untuk hal ini Rodgers melakukan kerja yang sangat baik, terbukti dengan Liverpool masuk ke daftar tim yang memiliki penguasaan bola tertinggi di eropa bersama dengan Barcelona , Bayern Munich dan lain nya. Sering sekali banyak yang bilang “persetan dengan penguasaan bola, tapi gak bisa bikin goal” untuk hal ini Rodgers belum bisa menangani nya. Tapi, ada juga yang bilang “percuma main kaya Barcelona kalo gak juara” untuk hal ini sebaiknya turunkan ekspetasi anda dan standarisasi anda ketika mendukung Liverpool. Lihat kedalaman skuad, kurang meyakinkan untuk bertarung dalam perebutan gelar. Memang, pemain muda merupakan aset untuk kedepan nya. Tapi, membutuhkan pemain berpengalaman merupakan hal yang bagus untuk pemain muda sebagai mentor mereka. Taktik? Sudah berjalan tapi belum pasti. Beberapa kali Rodgers masih bingung untuk menetapkan pola seperti apa yang pas untuk Liverpool apalagi jika salah satu pemain utama mengalami cedera atau akumulasi kartu. Kurang pas rasanya jika belum membandingkan dengan tim yang disebut sebut sebagai rajanya penguasaan bola, “Barcelona”. Barcelona sudah memainkan permainan indah dengan penguasaan bola yang bagus sudah cukup lama. Ketika Ronaldinho masih bermain dia adalah pusat nya, dengan Deco/Xavi sebagai partner yang pas. Lalu, Messi menyisihkan semua nya dari Eto’o , Ibrahimovic sampai Henry semua tersingkir karena satu taktik dari pelatih Barcelona kala itu, “Messi-Sentris” jika tidak salah disebut nya seperti ini. Dari sini sudah terlihat permainan Barcelona yang tidak akan berubah entah itu melawan tim yang bermain menyerang atau bertahan seperti suatu program yang sudah tertanam dalam otot dan otak pemain Barca. Liverpool masih anak baru untuk bermain seperti ini, wajar saja perubahan perubahan kecil terjadi.

Untuk pergantian pelatih tiap tahun akan beresiko sangat besar. Karena dari pemain sampai staff akan ada perubahan yang signifikan. Lihat saja ketika Roy Hodgson digantikan King Kenny dan King Kenny digantikan Rodgers, perubahan secara besar besaran terjadi di dalam tim.

Jika fans Liverpool sabar akan “We Won it Five Times” yang sudah lama tidak berubah lirik nya kenapa tidak bisa bersabar dengan tim dan pelatih yang saat ini masih belajar dengan hal yang baru?

@LFC_Hardline



Advertisements

2 responses to “Batas Kesabaran Sebagai Fans Liverpool

  1. Jujur gw emg sedih.ngeliat LFC musim ini..satu persatu harapan dan target realistis yg bisa tercapai berguguran gt aja..sedih kadang2 ngelihat pemain entah senior atau junior,bermain kayak ga ada pride nya sama sekali pake baju merah dan liverbird di dada.. >_<

    Ntah lah.apa yg bikin mental pemain LFC ga ada proggress sama sekali beberapa tahun ini..oke,permainan blh dibilang membaik(meskipun ttp susah bkn gol) tp mental 'liverpool way' nya itu seakan ga ada kemajuan..

    Gw ga mau nyalahin BR krn ini semua..dan gw jg sbnernya ga mau nyalahin KD jv musim kemarin..
    Karena gw yakin,butuh lbh dr 1 di LFC untuk menyembuhkan segala penyakit di tim ini..dengan dokter yg sama tentunya..karena jika setiap tahun beda dokter,penyembuhan dimulai dari 0 lagi !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s