“Kami Muak atau Tidak Muak”

Bagi mayoritas masyarakat menjadi orang yang frontal perkataannya tidaklah sejalan dengan adat ketimuran. Kita sebagai sekumpulan masyarakat yang diistilah oleh masyarakat barat sebagai ‘people from far east’ semestinya bisa lebih mementingkan unggah-ungguh dalam perkataan.

Dalam lingkup yang lebih kecil, sepakbola pun demikian. Kita dituntut oleh budaya tidak tertulis itu untuk dengan lebih sopan alih-alih frontal, apalagi dalam hal mengkritik klub sepakbola tercinta yang saya sebutkan ini tentu saja, Liverpool FC.

LFC Hardline dalam menyambut ulang tahun kelahiran akun mereka yang kedua mengadakan sebuah kuis yang lebih saya katakan sebagai suatu yang unik ketimbang suatu yang kontroversial. Membuat tagar #KamiMuak atas performa Liverpool, menggambarkan seberapa dongkolnya anda atas performa Liverpool. Para pengurus akun LFC Hardline adalah sekumpulan fans Manchester United yang kecanduan menghina Liverpool mereka sakau tingkat akut menjelek-jelekan klub tercinta saya. Nama tengah akun mereka adalah Manchester United.

Dilain sisi telapak tangan, ada sebagian kecil orang yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran dengan tidak menggunakan bahasa frontal, cara yang digunakan adalah bahasa sarkasme. Sindiran ataupun towelan kecil diatas pedihnya luka. Siapa sih diatas muka bumi ini yang mau dan rela-rela saja lukanya diberi jeruk nipis, atau garam?

Pedih melihat lini masa LFC Hardline saat itu. Demi sebuah kaus yang tak seberapa banyak sekali yang mengikuti kontesnya, kontes menghina Liverpool. Sekumpulan fans United pencari sensasi, tagar #KamiMuak sukses menjadi trend Twitter di bagian Liverpool, mereka sukses membuat sensasi. Apalagi?

Tapi benarkah seperti itu? Benarkah semua itu hanya dikhususkan bagi para banci kuis? Banci kuis kemungkinan besar akan protes besar-besaran karena jawabannya benar tapi tidak dimenangkan. Yang mengikuti kontes #KamiMuak, apakah mereka banci kuis.

#KamiMuak adalah masterpiece, bagi saya yang sakau kata-kata sarkasme ke tim saya sendiri yang saya dukung. Saya ingin kebenaran ditegakkan. Cukup penyangkalan dan segala pembenaran atas semua kekalahan. Saya cukup letih membaca come back Istanbul disetiap kekalahan, mereka berkata “Kita pasti bisa membalikkan keadaan ini, ingat Istanbul!” Atau pilihan lain seperti “Jika kalian tidak bisa mendukung ketika kami seri atau kalah, jangan dukung kami ketika kami menang.”

#KamiMuak adalah sebuah pilihan untuk mendukung tim kesayangan kita ini. Saya ingin sosok kecil disudut hati ini terpuaskan. Bilang saja Liverpool memang jelek, kritik saja, akui saja kita memang tidak pantas menang. Tapi jika anda memaki Liverpool anda butuh terapi, apa benar-benar mendukung Liverpool.

Kemarin saya dan seorang rekan sempat berdiskusi tentang hal ini karena saya tidak optimis. Saya dikatakan harus menjadi orang yang optimis dan harus mengakui bahwa kemenangan bukan segalanya. Dude, we’re talking about Liverpool FC we should compete for glory, for trophies. If win is not everything, what is? Tidak penting saya mendukung Liverpool dari kapan, tapi saya terdidik King Kenny bahwa Liverpool adalah tim yang berjuang meraih gelar, bagaimana cara agar meraih gelar? Anda harus menang. Brendan Rodgers sekarang pun begitu, ia berkata bahwa Liverpool seharusnya berkompetisi dengan raksasa-raksasa Eropa. Saya juga berfikir seperti itu. Liverpool harus dibangunkan dengan cara kotor jika bisa sekali-kali. Saya tidak pernah membayangkan hari menurunkan ekspektasi saya pada Liverpool akan datang, ekspektasi saya tinggi.

Karena itu saya muak dengan Liverpool yang gagal menang, saya ingin Liverpool dan “para Mario Teguh” diranah Twitter terbangun. Oi!!

Tapi jika tulisan ini tidak bisa membangunkan Anda. Terserah. Mari kita sarankan para pengurus LFC Hardline untuk mengganti nama mereka menjadi LFC Heart Line dan mengurusi tagar baru, #JodohLFC. Semua pihak tidak bisa dipuaskan, tapi bagi tidak terpuaskan, mari menghargai kawannya yang lain dalam menyampaikan pendapat. Karena ternyata #KamiMuak bukan sekedar kontes kuis semata, melainkan mewakili hati yang terlalu lama minta dipuaskan dahaganya, 2 hari yang lalu semua sarkas atas kebosanan itu terpuaskan.

I have to admit. When my team is shit, I say it is shit, seperti yang saya kutip dari seorang fan Manchester United yang berfikir menggunakan logika. Jangan mau kalah, dong.

@MahendraSatya

Advertisements

2 responses to ““Kami Muak atau Tidak Muak”

  1. hal yang paling memuak kan adalah ketika LIVERPOOL harus kalah 2 kali dr rival abadi MUNYUK (home-away) termasuk belum menang lawan tim big4 +spurs & m.city #KamiMuak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s