Memandang Liverpool Pertama kali

Istanbul 2005. Some call it a miracle and others just call it well, a luck. Keberuntungan memang merupakan hal yang sering diperdebatkan di sepak bola. Apakah mendapatkan tendangan pinalti di saat anda tertinggal 0-1 dari lawan di menit 90 merupakan keberuntungan? Atau diusirnya pemain kunci lawan yang selalu merepotkan tim anda merupakan keberuntungan pula? Saya menolak anggapan bahwa keberuntungan memihak secara membabi buta, saya percaya keberuntungan berpihak kepada orang yang telah berusaha. It’s just a crossroad of effort and achievement.

Kebanggan terakhir (yang saya mampu ingat) selama menjadi pendukung Liverpool ada di tahun 2005. Yeah, Istanbul Miracle some said. Tidak ada tim lain di ranah eropa yang mampu melakukan comeback seperti Liverpool lakukan. Akhirnya, saya mengerti apa yang fans Manchester United rasakan di tahun 1999. Saya merasa bahwa tahun 2005 merupakan saat yang paling tepat untuk Liverpool untuk mulai melaksanakan “comeback”nya pula dengan merajai Inggris dan Eropa. Sungguh sebuah anggapan yang saya yakin anak membuat anda tertawa geli saat membacanya saat ini.  Tetapi saat itu seakan dunia berhenti berputar, dear Jose Mourinho.

Liverpool di tahun 2005 bukanlah siapa-siapa. Sebuah tim yang dapat lolos ke Liga Champion karena mereka menempati peringkat 4 di klasemen liga musim sebelumnya. Mereka tidak bermain sepakbola indah layaknya Barcelona sekarang, tidak memiliki pemain sekaliber Lionel Messi, dan mereka dipimpin oleh manager berusia 45 tahun dan kapten yang baru berusia 25 tahun. They are nothing.  Satu-satunya yang mungkin layak diperhitungkan saat itu adalah keberadaan manager Rafael Benitez yang baru saja menikmati masa bulan madunya di Valencia dengan dua gelar liga dan satu gelar piala UEFA. Bahkan Jamie Carragher, menyatakan bahwa dirinya pesimistis dan skuad saat itu “tidak lebih baik” saat final piala UEFA tahun 2001.

Steven Gerrard saat itu belum membentuk reputasinya sebesar sekarang. Pemain antah-berantah dari spanyol Xabi Alonso (who?) dan Luis Garcia mengisi lini tengah Liverpool. Sedangkan di lini depan hanya bertumpu dengan Milan Baros karena si labil Djibril Cisse belum mampu diharapkan. Bagaimana mereka bisa dibandingkan dengan juara Liga Champions 4 kali Paolo Maldini, juara 3 kali Clarence Seedorf, dan memiliki bek tengah terbaik dunia (menurut saya pribadi) Alessandro Nesta dan European Player of The Year 2004, ladies and gentlemen, Andriy Shevchenko. Name one person in the squad on that day that is better than Milan have. Tidak seperti sekarang dimana kita memiliki 4 pemain terbaik di negaranya masing-masing dan top skorer EPL sementara.

Tidak usah kita ulangi disini apa yang terjadi di pertandingan itu, karena akan menambah lelap tidur daripada fans Liverpool yang seperti  terbuai alunan dongeng ketika mengingat peristiwa ini. Dan mari kita mengadakan syukuran ketika ada dari sebagian fans yang terbangun, dan yang tidak? Salam “WE WON IT 5 TIMES!”.

Yang menjadi bahasan disini adalah bagaimana sebuah klub sepak bola, sebagai pihak yang tidak diunggulkan untuk selalu (yeah, underline that) menunjukkan identitas bahwa kita adalah Liverpool,” Ini adalah Anfield”, “Kamu tidak akan pernah berjalan sendiri”, dan yang lainnya (Setahu saya Liverpool memiliki banyak sekali “kode etik” dan slogan-slogan penambah motivasi. Maaf saya tidak bisa mencatumkan kesemuanya). Tidak dengan menunjukkan KTP atau semacamnya, tapi dengan apa yang mereka tunjukkan di atas lapangan. Identitas.

Tanpa menepikan unsur taktik dan keberuntungan, kita sendiri menyaksikan di babak kedua, dimana Liverpool menunjukkan kepantasan mereka memagai seragam klub. Setiap tackle, sprint, tendangan mereka mengingatkan kita bahwa inilah Liverpool. Sesuatu yang sangat saya rindukan sekarang. Andaikan tendangan Shevchenko dari jarak dekat berhasil merobek jala Dudek, saya tetap yakin bahwa Liverpool akan tetap memenangkan laga itu.

Kita tidak bermain cantik, pemain kita tergolong “average”, kita tertinggal 3 gol, dan belum ada pemain yang memiliki pengalaman serupa untuk mengangkat moral tim. Saya tidak tahu dan tidak pernah berusaha mencari tahu apa yang terjadi di ruang ganti yang mempengaruhi permainan tim. Tetapi yang jelas, saya merindukan hal itu. Dimana kita menyaksikan 90 menit pertandingan sepak bola dan tetap memiliki keyakinan untuk memenangkan pertandingan sampai wasit meniup peluit panjang. Tidakkah anda merindukan hal yang serupa?

Jujur, saya merasa kenangan Istanbul 2005 seperti baru saja terjadi kemarin. Sudah 8 tahun faktanya kita melewati fase itu. Apakah dalam 8 tahun ini identitas seperti itu sudah terkikis sedikit demi sedikit? Apakah lambang liverbird di dada mereka hanya sebagai tanda pengenal di kesebelasan mana mereka bermain di lapangan? Dan ketika kita berusaha mencari pembenaran akan apa yang terjadi kita seperti masuk ke dalam lumpur hisap yang dipenuhi dengan berbagai alasan. Sehingga kita lupa, kita bukanlah Liverpool seperti yang dulu lagi, apapun alasannya.

Mungkin kita harus berusaha berhenti berlagak sebagaimana kita Liverpool. Mungkin kita harus menanggalkan sejarah-sejarah manis di belakang kita. Dan mungkin kita harus mulai merubah pola pikir kita untuk menjadi “what liverpool is rather than what Liverpool was”. History makes us proud, and shouldn’t be anymore than it. Dan saya tidak akan memberi anda kuliah lagi di tulisan saya ini. Sebagai insan yang ber-edukasi tentu anda sudah tahu di sisi mana anda harus berdiri.

Saya harus menyudahi artikel ini, sebelum saya kembali terjerat oleh dongeng lama manisnya kesuksesan di masa lampau.

Keep walking, And You’ll be never alone.

PS : Saya bukanlah seorang role-model bagaimana fans sejati berlaku sebagaimana mestinya. Saya seorang supporter karbitan yang kebetulan menyukai tim ini karena tidak sengaja melihat cuplikan gol Owen di tahun 2004. Yang belakangan saya ketahui bahwa gol tersebut terjadi di pertandingan saat Liverpool berhadapan dengan Blackburn.  Jadi, tulisan saya ini tidak akan menggambarkan bagaimana seorang fans Liverpool sejati.

 

YNWA

LFC_Hardline

Advertisements

2 responses to “Memandang Liverpool Pertama kali

  1. tadinya mau komen kalo pertandingan yg magic macam itu ga cuma pas Istanbul tapi juga pas Final piala FA 2006, Final piala Carling 2012 yg lalu, dan masih banyak lagi dimana kemenangan Liverpool (untuk kesekian kalinya) ditentukan lewat adu pinalti (dan berharap itu juga terjadi saat Liverpool menghadapi Chelsea di Final Piala FA 2012 yg lalu). Tapi saat membaca bagian -“what liverpool is rather than what Liverpool was”. History makes us proud, and shouldn’t be anymore than it.- gue terenyuh. gue menyadari sebagai fans Liverpool selama ini gue sangat membangga2kan masa lalu. terlalu membangga-banggakan lebih tepatnya. But keep your chin up! We have a top scorer and a-very-great-captain with all the great players. Lihat saja Steward Downing yang secara tiba-tiba subur gol, Coutinho, si kecil-kecil cabe rawit keriting (rambutnya keriting soalnya :P), plus penampilan gemilang dari -yang pembelian baru juga- Sturridge yang lagi cedera sekarang. Kita bisa saja untuk tidak terlalu membangga-banggakan masa lalu, toh masih banyak hal-hal yang bisa dibanggakan dari Liverpool sekarang ini. Good post anyway 🙂 #YNWA

  2. “Keep walking, And You’ll be never alone”
    kita bisa saja mengungkapkan kata itu. Namun, kita belum tentu bisa memahami dan mendalami arti sakral dari kata itu. Sebagai fans dari liverpool, mungkin benar sekarang kita hanya terbuai dari dongeng masa lalu. namun, bagaimanapun liverpool sekarang, ingatlah arti sakral dari “Keep walking, And You’ll be never alone”.

    Liverpool pasti bisa comeback suatu hari nanti, dan dongen itu pasti akan kembali sebagai suatu kenyataan. apapun dan bagaimana pun prestasi liverpool saat ini, kita pasti bisa menjadi fans yang selalu mendukung liverpool. Memang liverpool saat ini sedang terpuruk, namun itu lah sepakbola, itulah kompetisi. tidak ada club manapun yang mampu menjadi bintang selama-lamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s