Year Zero, Liverpool!

kita kembali mundur dari apa yang telah kita capai dari sebelum memulai proyek angka kosong ini. “Year Minus One”.15006

Pengangkatan Brendan Rodgers sebagai manajer Liverpool menandai sebuah era baru dalam perjalanan Liverpool. Inilah Liverpool (yang secara konkret) mulai merubah haluannya dalam mengembangkan  klub. Seorang pelatih muda yang memiliki visi akan permainan, latar belakang pengembangan pemain muda yang baik, dan haus akan gelar. Sebuah tanda dimana era Liverpool membayar 35 juta pounds untuk seorang pemain, akan berakhir.

Dan seperti semesta sedang mengarahkan Liverpool menuju tempat bulan madunya, akademi kita dikaruniai kolam talenta denga potensi yang sangat baik. Cerita tim U-21 yang setidaknya sempat tidak terkalahkan, dan tim U-19 mencapai semifinal Next-Gen tahun lalu (walau tahun ini harus tersingkir di penyisihan grup, karena kehilangan beberapa pemain kunci yang dipromosikan ke U-21 dan sebagian lainnya cedera) merupakan sebuah sinyal positif dan momentum yang tidak boleh dilewatkan. Dan memilih Rodgers sebagai manajer memperjelas apa maksud dari owner yaitu, masa depan.

Why Now?

Saya tak pernah melihat petani (ya, saya tinggal di desa)yang baru saja selesai panen raya, kembali membeli bibit unggul sebanyak-banyaknya dan memaksakan untuk menanamnya sesegara mungkin pada lahan yang baru saja dipanen. Hal pertama yang ia lakukan adalah sesegera mungkin meratakan lahan dan menggemburkan lahan kembali dengan membajak, mengolah tanah, dan kembali mengairi sawah. Dan Liverpool, setelah menuai kesuksesan dari panen raya pada dekade 80an, mungkin ini saatnya untuk meratakan lahan kembali, membersihkan gulma yang menganggu, dan meletakkan fondasi awal untuk meraih kesuksesan jangka panjang. Football is simple, just like Bill Shankly said. And here we go ladies and gentlemen, Year Zero.

hjhjkkh

Liverpool memiliki bahan baku yang sangat bagus untuk memulai proyek Year Zero-nya. Akademi Liverpool saat ini benar-benar menjanjikan dan memiliki sejarah yang dihormati. Ketika orang-orang membicarakan akademi sepakbola terbaik di Eropa, orang akan menyebutkan La Masia, Le Havre, dan Kirkby. Rekor starting XI termuda di Premier League bukanlah sebuah lelucon. Memainkan pemain muda di pertandingan liga sungguh bukanlah keputusan yang mudah, dan untungnya Rodgers membuat ini terlihat mudah karena dikaruniai talenta muda seperti Sterling, Suso, Wisdom, dan Shelvey.

Oke, tentu saya tak akan mampu membuat setiap orang senang dengan artikel ini. Masih banyak hal yang masih harus dibenahi dari talenta muda kita. Mentalitas dan pendewasaan tentu akan berkembang seiring sejalannya waktu. Tapi yang terpenting dari itu semua, kita punya apa yang kita butuhkan untuk sukses kedepannya. Owner yang (setidaknya terlihat) ambisius, manajer yang haus gelar dan barisan pemain muda penuh talenta. Anda tentu tidak memerlukan #kode yang lainnya untuk mulai menyadari bahwa, inilah saatnya Liverpool mulai menggemburkan tanah dan menuai hasilnya di kemudian hari.

Nurturing The Crops

Saya tertarik dengan pengembangan pemain muda, bagaimana seorang pemain ingusan yang mesti pulang mengerjakan PR setiap pulang sekolah menjadi seorang pemain professional yang mesti pulang untuk menafkahi istrinya (atau istri rekan setimnya) lahir dan batin.

Saya ingin menegaskan bahwa, seorang pemain muda yang mencetak 20 gol dalam 15 pertandingan di akademi tidak akan membuktikan apapun di masa depan. Tetapi seorang pemain yang tidak pernah melewatkan setiap sesi latihan dan selalu pulang terakhir, ya. Yang dibutuhkan setiap pemain muda bukanlah pencapaian pribadi atau medali trofi, hanya kepercayaan. Dan ironisnya sebagai pemilik salah satu akademi terbaik di Inggris, Liverpool cenderung mengabaikan hal ini dalam beberapa tahun kebelakang. Apakah Kacaniklic dan Tom Ince terlihat kurang bertalenta?

Chelsea dalam opini saya memiliki struktur pengembangan pemain muda yang lebih baik daripada kita. Jaringan pemandu bakat yang luas, staff kepelatihan akademi yang mumpuni dan sokongan dana tidak terbatas sang pemilik menjadi faktor kunci kesuksesan mereka. Tetapi seperti yang diutarakan mantan staff mereka, justru dari pihak klub sendirilah yang menghambat naiknya talenta-talenta dari akademi untuk masuk di tim utama. Dan Chelsea (beserta Inter Milan) layaknya Indonesia menjadi pengekspor bahan baku pesepakbola muda menjanjikan ke seluruh pelosok dunia. Oh iya, golnya Miroslav Stoch keren ya?

Dan terimakasih kepada kebijakan Financial Fair Play UEFA, Liverpool mau tidak mau harus kembali menginvestasikan uangnya di akademi. Pembelian pemain muda potensial (Jordan Ibe, Mclaughin, Yessil, Ngoo, Teixeira, dan lain-lain), penyusunan kembali struktur akademi, dan pemanggilan staff akademi yang kompeten dari penjuru dunia mengisyaratkan bahwa fokus utama dari Liverpool saat ini adalah mengembangkan talenta-talenta akademi agar nantinya siap pakai di tim utama. Dan setiap bibit, perlu waktu untuk tumbuh. Termasuk bibit unggul sekalipun.

Clock is Ticking

Di setiap pengembangan tentu ada setiap target yang harus dicapai dan menjadi tolok ukur kesuksesan. Baik jangka pendek, menengah dan panjang memiliki pencapaian tersendiri. Yang ingin saya tekankan bahwa di setiap hasil yang diperoleh agar tidak membiaskan kita pada tujuan awal dari proyek ini.

Rodgers sayangnya membuat blunder dalam hal ini. Terinspirasi dari kesuksesan besar dari laga-laga sebelumnya, Rodgers terlihat ingin “mengunci” pencapaian di tahun pertamanya dengan posisi empat besar. Sebuah blunder dalam proyek jangka panjang ini. Mengorbankan filosofi dan keseimbangan tim yang sedang dibangun demi 4 orang penyerang seperti mengkhianati apa yang ia sendiri sedang bangun. Tidak ada yang memaksa anda untuk memenangkan seluruh pertandingan dengan hasil yang spektakuler di tahun pertama anda. Ketika anda sudah mampu membuat Liverpool bermain tiki-taka yang sama (re:konsisten) saat tertinggal 3-0 sebagaimana memimpin 3-0, dear Rodgers, the result will be following-up shortly.

klkl

 “Apa?? Kita Kalah? Maaf saya terlalu menikmati permainan lawan.”

Hanya karena 2 kekalahan melawan tim seperti West Bromwich dan Southampton bukan merupakan sinyal kegagalan dari proyek ini. Tidak perlu untuk menekan tombol panik. Dan ketika nantinya Liverpool memutuskan untuk kembali melakukan kesalahan bodoh dengan pembelian dan “tidak dibelinya”, dan kembali melakukan blunder serupa, ini akan membawa kita kembali mundur dari apa yang telah kita capai dari sebelum memulai proyek angka kosong ini. “Year Minus One”.

YNWA!

LFC_Hardline

Advertisements

3 responses to “Year Zero, Liverpool!

  1. Bagus artikelnya, sayang artikel sebagus ini harus mengalami kendala dalam membacanya. i mean, pemilihan font untuk konten kurang tepat, atau bisa jadi ukurannya terlalu kecil. aside from that, saya setuju kalau Liverpool lupa, anak muda yang akan bawa Masa keemasan bukanlah yang pegang rekor pribadi, tapi yang pekerja keras, yang punya keinginan untuk lebih baik, yang punya angan2 ingin bermain untuk Fans. untuk Liverpool!

    terima kasih kudapan malamnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s