Is This What We’re Looking For?

c1be621f03f6717efedc4cbf92e1e321-600x400
Saya bukan penggemar berat Brendan Rodgers saat pertama kali ia sampai di Merseyside dengan mobilnya yang berwarna hitam pekat.

Saya adalah satu dari sedikit orang yang menhendaki Kenny Dalglish untuk kembali menjabat di awal musim lalu. Well, ini bukan masalah sentimentil bahwa saya seperti tersihir oleh wibawa, pembawaan serta statusnya sebagai legenda tapi masalah tanggung jawab atas bagaimana ia menghaburkan sejumlah uang tapi bertolak belakang dari sisi prestasi.

Sang raja tidak perlu menggunakan cincin sebesar batu yang bisa menahan sebuah mobil untuk tidak berjalan mundur di tanjakan pada jari-jarinya, namun saya benar-benar setuju akan kata-katanya bahwa Liverpool adalah sebuah tim besar yang bertujuan akhir mencari piala di setiap kompetisi yang diikuti.

Mencari sangkut paut dari telah bergesernya industri sepakbola menjadi sebuah perusahaan penggeruk keuntungan, Kenny telah gagal memenuhi ekspektasi di awal musim bahwa Liverpool seharusnya sudah kembali ke Champions League dengan budget dan jumlah pembelian seperti itu. Saya tidak perlu menyebutkan siapa-siapa saja yang dibeli olehnya, kita sama-sama tahu.

Rodgers dibawa dari Swansea, sebuah tim yang salah kodrat karena berada di Inggris. Perlahan tapi pasti bagai seorang wanita yang memberikan angin surga bagi pria yang mendekati, ia melalui berbagai wawancara terakhir sukses merebut hati saya. Pengembangan skuat menjadi fokus utama, terutama masalah mental. Dan saya sangat setuju mengenai hal ini.

Ia mempunyai cara berbeda mengenai keterbukaan di jendela transfer. Jika Kenny memilih bungkam sepenuhnya dan membuat media seperti orang bodoh yang menerka-nerka apa isi pikiran serta keinginan pasangannya, Rodgers mengungkapkan sepenuhnya apa yang menjadi rencananya di masa depan. Bahkan kepada media.

Tidak kah Anda menyukai orang yang terbuka seperti ini?

Liverpool telah sukses mendatangkan tiga orang pemain ke Anfield bahkan sebelum jendela transfer musim panas dibuka. Iago Aspas, Luis Alberto dan Kolo Toure. Berbeda dengan sebelumnya, ketiga pemain ini sudah diprediksi media akan datang dalam waktu dekat. Jika dikaitkan dengan yang lain maka Simon Mignolet, Henrikh Mkhitaryan, Kyriakos Papadopoulos, Tiago Ilori, dan Christian Atsu bisa jadi akan jadi daftar pemain yang akan segera datang ke Merseyside merah.

Lalu apa yang menjadi posisi tawar yang baik jika pemain-pemain ini jadi datang? Adalah kedalaman skuat yang dicari sejak musim lalu jawabannya. Sebuah kompetisi antar pemain di satu posisi akan membuat pemain menjadi lebih mengerti pentingnya mengenakan baju Liverpool, mereka akan lebih bangga dengan lambang Liver Bird di dada mereka. Suatu yang seperti tidak terlihat di era Kenny.

Pemain favorit semua orang Stewart Downing akan tetap tanpa gol dan assist dan meringkuk menjadi cadangan mati tanpa persaingan, seorang anak muda atas nama Jordan Henderson dengan kemampuan bagai berlian akan tetap menjadi batu sungai yang biasa saja jika terus dimainkan di sayap kanan tanpa persaingan. Pepe Reina akan tetap menjaga trademark kiper-kiper Liverpool terdahulu yang doyan melakukan blunder tanpa ketakutan untuk digeser posisinya.

Dengan nama-nama yang sepertinya akan datang, semua pemain inti Liverpool bisa menaikan level permainan mereka ke level yang lebih tinggi dengan catatan semua pembelian musim panas adalah memang pembelian yang baik, cocok dengan sistem yang akan diterapkan oleh manager dan yang paling penting memiliki mental “saya harus bermain bagus dan tim harus menang” bukan “ah, mau diganti siapa juga kalo saya main jelek.”

Dengan Andy Carroll melambaikan salam perpisahan dengan menggoyang-goyangkan kuncir Kudanya, semakin berkuranglah anggota skuat yang mendapatkan gaji tanpa kontribusi nyata di atas lapangan.

Lalu bagaimanakah dengan posisi lain? Posisi manakah yang sebenarnya sangat perlu diperbaiki dengan lebih baik? Ada dua posisi yang sangat rawan.

Beberapa waktu lalu ada seseorang yang bertanya kepada saya alasan tidak dipanggilnya Jose Enrique ke skuat Spanyol. Akan saya jabarkan sedikit mengapa.

Enrique adalah pemain bertubuh kekar yang menyukai berpakaian ketat. Ia gemar mengunduh fotonya dikelilingi para laki-laki di sebuah kamar hotel tanpa mengenakan baju dan hanya mengenakan celana dalam pendek yang juga ketat. Vicente Del Bosque mungkin tidak tega melihat pemain Spanyol lainnya untuk mengikuti jejak Enrique.

Dibeli dari Newcastle United, Enrique bukanlah pemain seperti Fabio Aurelio yang menggunakan otak serta kaki kirinya dengan brilian. Enrique tidak akan melakukan tendangan bebas melengkung seperti yang biasa dilakukan Aurelio ketika melakukan crossing. Enrique dalam melakukan crossingpun ia seperti anak bayi yang sedang mencoba memanggil nama Ayahnya untuk pertama kali. Ketika ia melakukan crossing dengan benar, saya akan terkejut seperti melihat anak berusia 6 bulan menyebutkan kata “Ayah.”

Well, secara defensif ia adalah salah satu pemain yang baik karena jarang sekali melakukan tekel dan merebut bola dengan cara menggunakan badannya yang kekar. Ia bagus saat ditempatkan di posisi sayap kiri di tiga pemain depan dalam beberapa kesempatan musim lalu, sampai akhirnya datangnya Coutinho, Sturridge dan naiknya performa Downing kembali membuatnya ke posisi bek kiri.

Ketidakmampuannya untuk memberikan ancaman nyata seperti halnya Glen Johnson di sisi lain lapangan adalah alasan kenapa Enrique tidak memuaskan saya maupun Del Bosque di tim nasional Spanyol. Mungkin dengan menambahkan sedikit otak seperti Aurelio akan jadi solusi yang bagus, dan jika Enrique sulit dimasukan hormon kecerdasan ke dalam otaknya, mungkin membeli bek kiri yang lebih cerdas bukan alternatif yang buruk.

Tanpa mengindahkan peran penyerang-penyerang lain namun jika Luis Suarez benar-benar pergi akhir musim nanti, adakah seseorang dalam tim yang dapat menjamin dapat mencetak 20 gol dalam semusim? Mampukah Aspas dan Luis Alberto menggantikan perannya? Dapatkah Daniel Sturridge dan Fabio Borini menjaga badan mereka untuk tetap fit mengarungi musim depan? Karena saya tidak yakin Liverpool akan mencari pengganti Suarez jika saja ia pergi.

Dan bukan maksud menjadi orang yang gentar maju ke medan perang karena nyali saya sudah ciut duluan namun berkaca dari betapa kita sangat meninggikan kemampuan Reina, Martin Skrtel, Joe Allen, dan lain-lain dalam skuat tapi tetap saja fakta Liverpool berada di peringkat ketujuh klasemen adalah kenyataan yang tidak bisa Anda sangkal.

So, is this what we’re looking for?

@MahendraSatya

Advertisements

One response to “Is This What We’re Looking For?

  1. Sejujurnya, saya cuma bisa berharap siapapun yang didatangkan Rodgers pada jendela transfer musim panas ini disortir dengan cara teliti sebagaimana yang dilakukannya pada Januari lalu, dan bukannya mengulangi kekeliruan musim panas lalu. Dengan sedikit bersusah payah untuk meramu sejumlah alasan dan faktor penguat, setiap pemain bisa dianggap logis sebagai target kita. Tetapi, apapun itu kita masih berada dalam taraf spekulasi, pada akhirnya –setidaknya akhir tahun ini– kita bisa melihat hasilnya. Baik? Buruk? Sukses? Gagal? Entahlah, bahkan jendela transfer belum dibuka. Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s