It Used To Be A One-Sided Love Affair

Semua orang punya cerita pertama tentang bagaimana mereka mengenal Liverpool. This is my story.

Saya ingat pertama kali mengenal kata Liverpool, lebih dari 15 tahun yang lalu di sebuah sudut pasar swalayan kelas menengah yang menjual berbagai atribut olahraga. Ada topi Hornet’s, baju-baju Major League Baseball, berbagai jersey bola replika kelas paling bawah, dan berbagai hal lain. Hari itu saya membeli sebuah dompet berwarna biru berlambang burung dengan tulisan “Liverpool FC.” Ya, biru. And I didn’t fucking know or care what Liverpool were. Heck, I didn’t even watch football enough that time.

Singkat cerita, dari situ saya sedikit demi sedikit mulai mendengar tentang Liverpool. Saya lihat McManaman di cuplikan olah raga di teve. Saya baca tentang pemain muda bernama Michael Owen di majalah dan koran. Jaman itu, Manchester United sudah mendominasi, but there was nothing more in my head than a certain red-dressed club based on Merseyside. I called it destiny.

Saya lalu bergabung ke BigReds tahun 2000-2001. Kala itu setiap member dikirimkan fotokopian buletin bulanan. Kadang telat pula sampainya. Tak apa. Saya masih menyimpan dengan baik Setelah setahun saya tidak melanjutkan lagi iurannya. Sulit sekali buat saya menyisihkan uang jajan kala itu. Dan tidak semudah hari ini ketika semua bisa ditransfer online dan twitter untuk menjawab semua pertanyaan tetek bengek tentang pendaftaran.

Beranjak remaja, pacar saya (sekarang istri saya) pernah berkata bahwa cinta pertama saya adalah Liverpool dan dia yang nomer dua. It was a brutal truth. I spent my weekends watching Liverpool played or simply checked the score online, minute by minute. And you know how expensive internet was those days. Malem-mingguan is overated anyway. Nothing beats the ecstasy of you team winning in the weekend.

And it was used to be a one-sided love affair, sadly. Ayah saya sering berkata nyinyir: “Kamu nangis atau seneng gitu ga akan ada artinya buat mereka.” Dan saya menjawab dalam hati, “you don’t frikking understand!” Namun, sebenarnya kata-kata ayah saya ada benarnya juga. Tidak sedikitpun tampak bahwa saya yang menonton di depan teve meninggalkan pacar saya ini berarti untuk tim yang saya dukung.

Tapi semua itu sedang berubah. Saya bertemu dengan banyak orang dengan passion terhadap Liverpool sebesar, dan bahkan jauh lebih besar, dari saya. Di Indonesia. Orang-orang yang membuat klub sebesar dan sehistorik Liverpool pada akhirnya berpaling dan menyadari bahwa kita ada. Sadar bahwa barisan data di komputer mengenai financial report di Asia ternyata berwujud ribuan orang yang bertahun-tahun menangis dan tertawa bersama, di depan teve.

Saya, seperti sekian banyak lainnya, mempunyai cita-cita menjalani pilgrimage di Anfield, dan juga kota-kota dimana Liverpool pernah menaklukkan Eropa. Namun saat ini, besok lusa, kita akan lebih dulu didatangi tim yang selama ini hanya ada di layar kaca dan mimpi kita. Orang-orang yang selama ini hanya berada dalam poster yang menempel di kamar.
It used to be a one-sided love affair, indeed. But it is ending. And brace yourselves lad, Liverpool are coming.

Menulis kembali dalam kebosanan akan artikel-artikel bola Pangeran-esque dimana para penulisnya merasa mereka hipster.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s