Kopites Indonesia Memang #AsuKabeh

IMG-20130721-WA0001

Silakan iri, tapi dua minggu terakhir ini saya adalah a lucky bastard. Itu karena saya berkesempatan menonton langsung Arsenal dan Liverpool di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Gratis dan di tribun yang jarak pandangnya nyaman.

Terima kasih kepada redaktur pelaksana yang menugaskan saya meliput meskipun baru resmi jadi jurnalis tiga minggu lewat.
Iri? Jangan dulu. Sebetulnya saya lebih memilih untuk membayar beberapa ratus ribu agar bisa menikmati pertandingan Liverpool sebagai penonton, bukan sebagai jurnalis sebuah media daring.

Kalian pikir enak harus konsentrasi ke lapangan sembari mengetik laporan pertandingan?

Buat saya, yang pernah cekcok dengan orangtua cuma gegara diajak guyon saat sedang nonton The Lord of The Rings, itu sih menyiksa. Saat menonton Arsenal saya angkat tangan dan terpaksa mengibarkan bendera putih dengan mengirim pesan gencatan artikel laporan pertandingan ke Tuanku Redpel via BBM dan WhatsApp. Kombinasi tidak hapal nama dan nomor punggung kedua tim plus jarak gol yang kelewat mepet di babak kedua adalah biang keroknya.

Sejak saat mulai suka Liverpool ketika Owen masih terlihat sebagai bocah kalem yang penurut, menonton Liverpool secara langsung di Anfield adalah umroh buat saya. Saya pikir apa lah asiknya menonton pertandingan eksibisi yang sering cuma main-main saja. Tak ada tekel keras, tak ada kengototan, tak ada rasa serius ingin menang. Maka pertandingan seperti itu sudah tak ada makna lagi pikir saya.
Sampai sebulan sebelum Liverpool datang ke sini pun saya tak ada niat sama sekali untuk beli tiket. Menonton mereka di GBK? Pret ah. Saya terlalu optimis akan bisa pergi ke Merseyside sebelum usia kepala tiga, walau paham betul Steven Gerrard sudah tak akan bermain saat saya ada di sana.

Kalau bukan karena profesionalitas, kemarin malam pasti saya sedang duduk di warung sambil makan tempe penyet buatan Mas Seno sambil menatap televisi. Tapi pada akhirnya saya tetap harus duduk di tribun khusus jurnalis, menyiapkan tulisan di badan surel, dan melewatkan banyak momen pertandingan. Satu hal yang sangat saya benci.

Tahu tidak? Bulan Ramadan begini bukan cuma pelawak yang suka bercanda, ternyata Tuhan juga. Awal masuk tribun saya menggendong perasaan bete kemana-mana, tapi selang beberapa menit kemudian Tuhan mulai bercanda. Nyaris seisi GBK kompak menyanyikan lagu kebangsaan Liverpool , You’ll Never Walk Alone. Saya terbawa dan ikut bernyanyi. Rekan jurnalis di samping saya bengong karena saya memakai jersey Atletico Madrid.

Menit itu GBK bergelora. Nyanyian You’ll Never Walk Alone bergaung keras dan saling bersahutan. Kampret! Saya sampai lupa menulis lead laporan pertandingan. Kampret! Tahu begini saya bakal bawa binokuler buat lihat ekspresi Gerrard mendengar gemuruh ini. Kalau anda pernah satu kali saja menyaksikan pertandingan bulutangkis tingkat internasional di Istora dan sedang ada pemain Indonesia bermain, akan lebih mudah untuk membayangkan suasana GBK kemarin malam.
Sejak awal, sepanjang, dan akhir pertandingan para Kopites terus bernyanyi.

Kecuali di menit ke-23 di mana mereka memberi standing applause untuk James Duncan Carragher, empunya nomor punggung 23, yang baru saja pensiun di akhir musim lalu. Anfield Road, Reds Go Marching In, dan We Love You Liverpool We Do saya catat menjadi tiga besar chants yang paling sering dinyanyikan. Di Anfield saja paling banter cuma ada 40,000-an orang yang bernyanyi, nah di GBK semalam barangkali ada 60,000 lebih manusia yang lantang bernyanyi. Ini sih Piala Uber 94 di Istora pindah ke GBK. Di berbagai sektor pun banyak red flare dinyalakan. GBK semakin meriah oleh merah.

Ada satu kejadian kocak di awal babak kedua. Saat serombongan polisi pengawal pertandingan (steward) masuk ke pinggir lapangan, Kopites di sektor 2 (kalau tak salah) bersorak, “Kiri, kiri, kiri kanan kiri.”. Itu terlalu lucu dan terlalu asu.

Untuk lebih menggambarkan suasana semalam, saya harus membandingkannya dengan saat Arsenal bertanding di GBK Minggu (14/7) lalu. Para Gooners memang bernyanyi, tapi percayalah, gaung dan gemuruhnya tidak sampai setengah kelakuan para Kopites semalam. Mereka memang berisik, tapi itu lebih karena Arsenal mencipta banyak peluang (dan juga banyak gol). Selebihnya tak ada militansi yang bisa membuat kagum. Jika Kopites adalah penonton bulutangkis di Istora, maka Gooners adalah penonton bulutangkis non-Istora. Yah setidaknya mereka tidak bertingkah laiknya penonton tenis yang hanya akan bertepuk tangan jika ada pemain yang mencetak angka. Sekali lagi alhamdulillah mereka tidak mencontoh perilaku tercela pendukung United di Thailand yang mengimitasi kelakukan penonton tenis, berdasar cerita Pangeran Siahaan.

Ah iya, tak ada chants Manchester is Full of Shit atau yang menyentil klub lain seperti yang dilakukan Gooners Minggu lalu. Saya tak membual, di pintu VIII, sembari mengantri para Gooners menyanyikan Manchester is Full of Shit dan satu chants yang isinya membanggakan diri kalau mereka mengalahkan Liverpool, Tottenham, dan entah klub apalagi.

But you don’t win a title, remember? You mad Gooners? Oh wait, they had Champions League spot. Meh

Saya menghadiri konferensi pers yang sayangnya cuma menyajikan Brendan Rodgers seorang. Meskipun saya jurnalis kemarin sore dan baru merasai konferensi pers beberapa kali, tapi saya bisa tahu kalau malam itu Rodgers banyak menebar omong kosong dan gula-gula manis. Saya sadari tiap kali mengelak atau bicara membual ia enggan menatap para jurnalis. Matanya akan melihat ke mic, meja, atau melirik kanan-kiri. Seperti saat bilang, “The star is the team (saat ditanya siapa bintang Indonesia XI malam itu).” Saya perhatikan matanya melirik ke meja.

Tapi di akhir konferensi pers ia bilang,
“I never heard Indonesian supporters can
like a Scouser.”

Dan ia masih menatap ke depan, ke arah para jurnalis.
Tuhan sedang senang bercanda. Malam itu saya baru sampai kost di Mampang pukul 1.30 dini hari. Jalan dari GBK ke Semanggi agar dapat angkot. Melewatkan buka bersama teman-teman. Dan Dia menyuruh saya di GBK untuk merasai langsung bahwa Kopites Indonesia memang #AsuKabeh.

@Shesar_Andri, 21 Juli 2013
masih pakai jersey Atletico

Advertisements

8 responses to “Kopites Indonesia Memang #AsuKabeh

  1. Pingback: Anfield Pindah Sejenak ke Gelora Bung Karno | taufikhate.com·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s