[PART II] Diego Costa, Si Tukang Lempar Ingus

The Beast

Musim 12/13 adalah tahun kelahiran The Beast of Manzanares, julukan Costa. Martin Rosenouw, jurnalis Spanyol, pernah menulis sebuah artikel berjudul ‘The Beauty and The Beast’. Beauty adalah Falcao dengan wajah tampan dan rambut klimisnya, Beast adalah Costa dengan rambut ikal dan wajah non-rupawannya. Tapi ia dijuluki Beast bukan karena wajahnya yang non-rupawan, tapi juga tingkah polahnya di lapangan yang terbilang hina dan menjijikkan, jika anda bukan seorang pendukung Atletico.

Costa memandang aksi meludahi muka lawan adalah sesuatu yang jamak alias mainstream, maka ia pun mencari alternatif. Dalam satu kejadian saat derbi Madrileno, Desember 2012, Atletico mendapat sepak pojok. Costa memegangi hidungnya, lalu dalam satu semprotan, ingus keluar dari hidungnya dan dalam gerakan kilat serasa tanpa dosa ia melemparkan ingusnya ke Sergio Ramos. Hebatnya, itu adalah yang kedua kalinya di pertandingan itu.

Februari 2013, ia bertingkah lagi. Costa memancing emosi para pemain Betis setelah menginjak tulang kering Ruben Perez, yang notabene pemain pinjaman dari Atletico. Sudah saja ia langsung menjadi target utama pemain Betis. Tekel keras banyak ia rasai malam itu. Ia adalah ‘bintang’ pada pertandingan itu setelah Amaya meludahi mukanya. Tambah lagi ada gosip ia ‘berterima kasih’ pada Amaya karena telah ‘membantunya’ mencetak gol di pertandingan itu. Andai saja Amaya adalah Gattuso yang sedang menyamar. saya cukup yakin tak akan ada yang berhasil mencegah perkelahian antara keduanya.

Terlepas dari tingkah gilanya, musim lalu adalah musim terhebat Costa. Ia adalah tokoh kunci Atletico sanggup berada di posisi tiga klasemen akhir La Liga. Memasuki pekan ke-11, permainan Atletico yang Falcao-sentris sudah terbaca oleh lawan, dan Adrian yang diharapkan untuk jadi pengalih perhatian malah melempem performanya. Costa hadir untuk membuat para pemain lawan melonggarkan penjagaan terhadap Falcao. Diego Simeone, manajer Atletico, dengan brilian memanfaatkan karakter provokatif Costa. Ia menaruh Costa sebagai penyerang sayap kiri, memaksa bek dan gelandang lawan mengejarnya sehingga Falcao sedikit lebih bebas. Ia lalu akan mengirim umpan ke Falcao, atau siapa saja pemain Atletico yang berdiri bebas di kotak penalti lawan. Bukti konkretnya adalah catatan 15 assistnya di 44 pertandingan Atletico musim lalu. Dan juga untuk pertama kali dalam sejarah, ia mencetak 20 gol, meskipun masih saja hobi mengoleksi kartu (15 kartu kuning dan satu kartu merah langsung).

Jika anda bertanya kepada para Madridista tentang Costa, anda akan menemui mereka menyebut golnya ke gawang Diego Lopez di final Copa del Rey dan tentu saja ingus legendarisnya tadi.

The Media, The Possibility, and The Excitement

Memindahkan Costa ke Liverpool dan membuatnya berduet dengan Suarez itu sama artinya dengan membuat berang Graeme Sounnes. Legenda Liverpool itu tempo hari mencap Suarez merusak reputasi klub karena aksinya menggigit lengan Branislav Ivanovic. Coba bayangkan jika Costa mengajari Suarez cara membuang ingus secara akurat ke muka Patrice Evra, atau juga cara menginjak tulang kering Ryan Shawcross. Besoknya akan ada banyak sekali 13-kata-terlarang-untuk-seorang-pelaut-versi-Tuan Krab yang bisa dibaca di Det*k.com dan Spectre Kask*s. Beragam varian meme di  9Ga*  dan bisa jadi muncul belasan video lelucon di Youtu*e yang kemudian dicomot tanpa ijin oleh TV swasta kita.

Dengan karakter EPL yang sarat adu fisik, rasanya Costa akan menikmatinya sebagai hiburan tersendiri. Segala tingkah gilanya akan menjadi santapan empuk media Inggris yang haus sensasi. Entah menikmatinya atau tidak nanti, yang pasti kita akan sering mendengar orang membicarakan Liverpool. Sebuah media promosi yang efektif dan murah, yang hanya bisa dinetralisir dengan raihan prestasi.Peluang mendapatkan Costa bisa dibilang masih seimbang di batas realita dan fantasi. Realitanya adalah Atletico sedang butuh banyak uang untuk menutupi biaya pembangunan stadion baru mereka dan musim ini hanya punya anggaran transfer sebesar €30 juta. Bukti nyata adalah penjualan Falcao sebesar €60 juta, yang hanya dikompensasi pembelian Leo Baptistao senilai €8 juta dan David Villa seharga €2.1 juta. Tapi jadi sebuah fantasi belaka jika melihat Simeone tak punya niat menjual Costa. Musim depan ia akan diproyeksikan menjadi penyerang utama bersama Villa atau Leo. Tambah lagi, Martin Rosenouw tadi pagi baru saja memposting foto jersey away Atletico di Champions League dengan nama Diego Costa di bagian punggung.

Bagaimana dengan penawaran Liverpool sebesar £21.8 juta? Saya akan bilang itu sudah kelewatan jika menengok market valuenya hanya senilai £13 juta di website Transfermarkt. Apalagi nilai itu belum tentu disetujui Gestifute, agensi Costa, meskipun nantinya kubu Atletico mengangguk setuju.

Lads, Liverpool akan berurusan dengan Gestifute, agensi milik Jorge Mendes. Iya, si Mendes yang ‘merampok’ Monaco sebesar €60 juta untuk Falcao dan £22 juta untuk  Moutinho. Oh iya, Madrid juga dirampoknya sebanyak £26.4 juta untuk memindahkan seorang Fabio Coentrao dari Benfica, lalu ada juga United yang harus membayar £17.6 kepada Atletico untuk De Gea yang waktu itu masih berusia 20 tahun.

Ah ah ah, Mendes jugalah agen dari Jose Mourinho, si pelatih nyentrik yang kabarnya dibayar Chelsea £19 juta per musimnya dan terakhir, dia lah agen Cristiano Ronaldo, si pemecah rekor transfer dunia. Jadi, masih percaya Liverpool hanya akan keluar uang £21.8 juta untuk mendapatkan Diego Costa?

Secara pribadi, saya sangat berharap Costa mau berjersey Liverpool musim depan. Akan sangat menarik melihatnya meledek seorang Mourinho. Seru rasanya menanti seperti apa muka Mourinho saat Costa menjebol gawang Petr Cech. Apalagi jika itu terjadi di pertandingan final sebuah turnamen, sama seperti saat Costa menjebol gawang Madrid di final Copa del Rey Mei kemarin. Golnya menjadi salah satu biang keladi Mourinho terpaksa mengakhiri musim tanpa gelar (zero tituli) untuk  pertama kali dalam sejarah manajerial sepakbolanya.

Memang sudah lama saya curiga pada Mei kemarin Costalah yang mengusulkan agar Atletico memakai slogan La Decima untuk gelar Copa del Rey mereka yang kesepuluh. Sebuah ledekan untuk kubu Madrid yang sejak awal musim lalu mendengungkan La Decima di gelar Champions League mereka.

Jika benar, pasti di Naples sana Benitez sedang mesam-mesem ga jelas.

@Shesar_Andri, 2 Agustus 2013 

waktu lagi ngempet pipis
Click here to Reply or Forward
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s