Suarez The Clown

Krusty(1)

Alkisah ada seorang gadis yang cantik tinggal di satu kota pelabuhan. Karena cantik rupawati, ia dikejar-kejar banyak preman pelabuhan. Gadis itu merasa tak nyaman dengan para preman pelabuhan yang kelewat sering mengganggunya. Ia maju ke panggung balai kota dan menyatakan terus terang ketidaksukaannya pada para preman. Gadis itu secara tak langsung meminta masyarakat kota memberi cap buruk pada preman pelabuhan, yang memang sudah buruk dari sananya. Sampai satu hari, entah ada kapal diterpa angin dari mana, si gadis cantik mendatangi salah seorang pelabuhan yang sudah lelah mengejar dan kadung eneg dengan si gadis. Preman itu tiba-tiba jadi ladang curhat si gadis cantik. Karena sedang baik hati, mungkin sih, preman itu mendengarkan curhatan si gadis rupawati sampai selesai, meskipun dalam hati ia sudah merasa jijik pada gadis itu.

Pembaca, apakah anda menebak si gadis itu adalah analogi untuk Suarez, preman adalah media Inggris, dan masyarakat kota adalah penikmat sepakbola di seluruh kolong bumi? Jika iya, maka kecerdasan Anda sangat rupawan dan rupawati. Tidak persis sih memang, tapi kiranya seperti itulah polah Tuanku Suarez kemarin sore waktu Greenwich.

Seperti mendapat bisikan Lucifer Sang Iblis, Tuanku Suarez datang ke Sid Lowe, jurnalis Guardian, untuk berkeluh kesah perihal keinginannya berpoligami dengan seseorang bernama Champions League. Seperti menjilat ludah sendiri, ah bukan, ludahan orang lain ding, karena pada Juni lalu ia baru saja mengeluhkan perilaku media Inggris yang menurutnya tidak bersikap adil pada dirinya.

Tuanku Suarez bilang ia ingin pindah. Tuanku Suarez bilang musim lalu Brendan Rodgers berjanji bahwa dia akan sukses jadian dengan si Champions League, jika tidak ia boleh pindah klub. Sok weh lah. Karena Brendan gagal, tagihan untuk pindah klub pun dilayangkan Tuankku Suarez. Sayangnya surat tagihan itu tidak dikirim ke kantor pos dan bersegel amplop. Tuanku Suarez lebih suka mengumbar curhatan ke media (yang seharusnya sih dibencinya) dan membujuk mereka untuk menyebarluaskan keluhannya.

Suarez membuat Kenny Dalglish serasa seperti orang bodoh yang kehilangan waras saat membelanya pada kasus rasisme, juga Brendan Rodgers yang sibuk memilih kata-kata yang tepat untuk pertanyaan media di kasus gigitan lengan Ivanovic. Chant‘Suarez better than Torres’ pun rasanya akan segera ditendang dari deretan tangga lagu The Kop. Entah dimana, si BawalTorres rasanya sedang cengar-cengir, “Apa gue bilang?”. Masih untung Suarez tidak ikut-ikutan membuat Linda Pizutti jatuh imej. Soalnya jika itu terjadi akan saya kerahkan FPl (Front Pembela linda) untuk menjotos mulutnya.

Saya tidak cukup optimis bahwa Tuanku Suarez terkena cahaya blizt amnesia MIB sehingga ia lupa dukungan para Kopites dalam susah dan senangnya. Apalagi saya tidak cukup percaya rekan setimnya lupa bercerita bahwa puluhan ribu Kopites Indonesia yang #AsuKabeh itu lantang menyanyikan chants yang berbau namanya di Gelora Bung Karno tempo minggu. Dan Tuanku Suarez yang tampan, Anda sangat dungu jika mengira masyarakat lupa bahwa Desember 2012 lalu Anda bilang akan tetap berada di Liverpool apapun yang terjadi, biarpun tidak lolos Champions League.

Akan terasa sangat bodoh ketika melihat video perpisahan Falcao dan Navas yang didominasi butiran kalimat aduhai nan menyentuh. Air berlinang di banyak mata. Terutama Falcao. Saya terpaksa membandingkan dengan Falcao karena masa bakti mereka yang hampir sama. Suarez 2.5 tahun (most likely) di Liverpool dan Falcao 2 tahun di Atletico Madrid. Yang penasaran silakan seperti apa emosionalnya perpisahan itu, mampir saja ke sini.

Ini bukan yang pertama kalinya Tuanku Suarez cari perkara saat ingin pindah klub. Korban sebelumnya tentulah Groningen dan Ajax. Dengan begitu Tuanku Suarez otomatis sekarang ini sudah membiarkan dirinya menjauh dari dukungan suporter Groningen, Ajax, dan (nantinya) Liverpool.

Di ranah perkicauan @MostarLFC pun langsung mengubah avatar Twitter-nya dengan gambar Agger. Ada pula yang sampai menyebut “Suarez made Owen and Torres look like saints.” Bahkan saking jijiknya, Daniel Taylor, Chief Football Writer Guardian, berkicau,

Wonderful irony that Suarez now using the English media he despises so much to help him get his transfer #LFC#AFC

Tinggal menunggu saja kapan dan kemana Tuanku Suarez akan berlabuh setelah ini. Dan menarik juga menunggu munculnya akun bernama BawalSuarez.

Ah iya, hampir lupa… kalau anda penghobi nonton serial The Simpsons, barangkali anda pernah menonton episode dimana ada festival film di Springfield. Di episode itu dua film bersaing untuk jadi juara. Film arogan dari Montgomerry Burns si pria terkaya di Springfield, dan film menyentuh buatan Barnie Gumble si tukang mabuk di Moe’s Tavern.

Badut Springfield, Suarez, eh maksud saya Krusty The Clown, memilih filmnya Burns. Lalu Jay Sherman, ketua dewan juri, menanyakan alasannya,

Let’s say the movie moved me… TO A BIGGER HOUSE!!!. Oooops I think I said the quiet part loud and the loud part quiet.”

Dasar badut.

 

©Shesar_Andri, 7 Agustus 2013

sambil mengganti lagu Just Can’t Enough ke Personal Jesus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s