Chapter I: Identity Crisis

Chapter  I : Identity Crisis_70870412_ramsey_pa (1)

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya mengenai sedikit prolog mengenai kisah Liverpool di musim baru. Kini kita bercerita mengenai kisah perjalanan awal Liverpool di 10 pertandingan BPL.  Sebuah start yang bisa dibilang baik jika kita membandingkan start Liverpool di 3 musim terakhir. Ya, kini Liverpool yang sudah ter-cap sebagai klub medioker ini menjadi salah satu klub yang sedang bertengger dengan gagahnya di peringkat 3 mengalahkan Tottenham, Manchester City bahkan juara bertahan Liga musim lalu, Manchester Fuckin’ United. Sesuatu yang mengejutkan? Saya pun berpikir demikian.

Diawali dengan pertandingan melawan Stoke City, terlahir seorang pahlawan baru untuk klub, namanya Daniel Sturridge. Pemain ini menjadi angin baru untuk Liverpool disaat Liverpool baru merasakan rasanya dikhianati dan terpaksa harus ditinggal dalam beberapa pertandingan oleh seorang pemain yang digosipin sebagai kanibal sepakbola,  Luis Suarez. Aksi ciamik Sturridge terus membantu Liverpool dalam memenangkan pertandingan, setidaknya 3 pertandingan beruntun, termasuk saat mempermalukan Manchester United di Anfield yang juga berketepatan di hari ulang tahunnya, manis bukan?

Tetapi Liverpool tetaplah Liverpool, inkonsistensi tetaplah menjadi identitas Liverpool selama ini. Penyakit yang selalu melekat, atau penyakit kronis yang menyebabkan Liverpool terus berpredikat sebagai tim “sejarah” selama ini. Aksi ciamik Sturridge disektor depan bahkan dengan bantuan aksi penyelamatan gemilang yang dilakukan berkali-kali oleh kiper baru kita Simon Mignolet, tidaklah bisa terus membantu Liverpool dalam mempertahankan kemampuan Liverpool dalam memenangkan setiap pertandingan. Liverpool menurun secara perlahan-lahan, terbukti saat berhadapan dengan Swansea, dan dilanjutkan oleh kekalahan dikandang sendiri saat berhadapan dengan klub sekecil Southampton.

Diawali dengan taktik baru yang sedikit awkward dari Rodgers, dengan memainkan formasi 3-5-2, memasang 3 bek tengah dan menjadikan full back berperan ganda sebagai pembantu saat bertahan dan juga menyerang. Formasi ini bisa dibilang sebagai senjata makan tuan buat Liverpool sendiri, 3 kali dipasang sebagai formasi awal tim, di 3 pertandingan itu pula sang kiper baru kita mulai merasakan apa yang dinamakan “kebobolan”. Bahkan bisa kita liat saat melawan Arsenal baru baru ini. Bukannya pertahanan menjadi baik, malah sebaliknya.

Performa ciamik pemain baru seperti Toure dan Mignolet, kembalinya performa sang terminator Skrtel, dan bahkan kembalinya sang Pangeran Drakula, Luis Suarez di lapangan tidak dapat membantu Liverpool untuk bisa tetap bertahan di puncak klasemen dalam waktu yang lama. Inkonsistensi performa pemain lama seperti Lucas Leiva, dan Steven Gerrard kadang menjadi salah satu faktor yang bisa membuat Liverpool terpaksa terjungkal karena ulahnya sendiri. Bukannya mau menyalahkan dua pemain yang bisa dibilang sebagai tulang punggung klub ini, tetapi kenyataannya berkata demikian. Percuma penyerang dan pemain bertahan bermain ciamik, sementara penyeimbang kedua sektor tersebut tidak konsisten bermain dengan bagus. Jadi bisa dibilang kalau inkonsistensi performa gelandang gelandang kita juga penyebab Liverpool demikian. Sudah itu kita hanya memiliki stok gelandang minim. Apalagi saat kita kehilangan Coutinho dan Allen, kita harus memaksa Gerrard dan Lukas harus mati matian menjaga kondisi mereka agar bisa terus bermain tiap minggu.

Terakhir soal mental juara Liverpool. Setelah melihat bagaimana mentalitas Liverpool saat berada di posisi big 4, klub ini seperti kebingungan. Mengapa demikian? Entah cuman perasaan saya saja atau apalah itu, saat Liverpool tidak berada di posisi big 4, klub ini berusaha mati matian untuk kembali keposisi tersebut, namun setelah masuk kembali keposisi tersebut dan tiba kesempatan untuk menjuarai puncak klasemen, mereka seperti terlihat tidak niat untuk berusaha menjadi yang utama. Liverpool harus terjungkal disaat melawan tim tim seperti Southampton, Newcastle, dan Swansea dibanding tim tim besar. Apa mungkin karena selama penderitaan bertahun tahun untuk kembali keposisi 4, Liverpool lupa kalau menjadi juara Liga itu jauh lebih baik lagi? Tidak ingin menjadi Raja Inggris lagi? Krisis Identitas juara, Liverpool?

Written by @Featric9Siahaan

Advertisements

3 responses to “Chapter I: Identity Crisis

  1. Mau nanggepin paragraf terakhir,

    “Mental Juara Liverpool” menurut gue ini lebih ke pemainnya ya bukan ke klub itu sendiri, dan gak lupa PELATIH, ya mental PELATIH. Entah kenapa gue masih mikir BR ini juga masih mencoba mencari plan B dari strategi yang diterapkannya (tentu dengan komposisi pemain yang sudah ada).

    Luis Alberto, Aspas, ini mungkin yang jadi kendala kenapa selama ini BR masih mencari plan B dari kedalaman strategi yang diterapkannnya. Dua nama tersebut menurut gue yang selama ini udah dijadikan BR target plan B nya namun kondisi berkata lain.

    Luis Alberto, jarang dapet porsi gak sih doi di tim senior? Gue denger-denger sih doi pernah nyetak hattrick ya di tim under sekian, lupa. Ya bisa dibilang kalo kasarnya “Ber.. ber.. lo liat tuh saingan lo Gerrard, Lucas, Henderson, Coutinho, Allen, dkk, yakin lo bisa bersaing sama mereka di tim senior?” Tapi kalo dipikir dua kali tiga kali empat kali dari sisi kepelatihan mungkin ini dipersiapkan untuk jangka panjang LFC kedepannya. Dan.. akhirnya kembali ke pelatih tersebut dia beneran ngotot gak buat bener-bener bersaing dapetin piala liga!? pft.

    Iago Aspas, gue awalnya pas beredar rumor Aspas ini langsung cek Wiki dan cukup ‘wah’ yah untuk seorang Aspas dengan statistik gol dan sebagainya yang lumayan. Namun apa daya pas awal musim bergulir doi lumayan nunjukin skill nya, apalagi pas pre-season. Sedikit kurang sreg sama sikap dia yang disenggol dikit jatoh (ya dimaklumi kalo postur tubuhnya kurang ideal untuk seorang striker) tapi dia belom sama sekali menunjukkan taji nya di epl. IMO. Aspas ini gue tulis terlepas dari duet maut Suarez Sturridge ya. Kalo sampe musim ini bergulir habis dan Aspas belom punya nama sama sekali di hati para Liverpool FC fans gue rasa bisa dibilang pembelian gagal BR :batas | Emang sih BR beli Aspas ini nampaknya ‘nothing to lose’ tapi ya, kalo gagal ya tetap aja gagal.

    Jadi kesimpulannya, semua tentang mentalitas. Pelatih terutama. IMO

  2. just be patient. 20 poin dari 10 pertandingan sudah jelas merupakan perkembangan yang signifikan dibanding musim2 sebelumnya. dan memang pada kenyataannya kualitas skuad kita secara keseluruhan masih dibawah tim2 london atau manchester kota, jadi posisi 3 klasemen saat ini masih bisa dibilang bagus u/ liverpool. tinggal bagaimana caranya menjaga konsistensi sampai akhir musim.

    Dan jangan ngelunjak juga mas hehehe. masa gara2 sempet ngerasain puncak klasemen bentar, sekalinya turun langsung marah2 bilang ga ada identitas juara. Semua pendukung liverpool juga pengen kita juara liga kembali, tapi ya dengan ngeliat komposisi tim yang ada saat ini, target realistis musim ini tetep kembali ke liga champions dulu. Ngebangun tim yg sempet rusak itu ga bisa bentar, tp gw yakin perkembangan LFC kita akan terus berjalan maju.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s