Naik Roller Coaster bareng Suarez

Ada dua hal yang dewasa ini sedang menjadi isu tentang kesehatan jantung. Pertama bekerja 30 jam tanpa rehat. Kedua menjadi fans Liverpool. Isu terakhir bukan soal permainan di lapangan, tapi masalah di pemain si ‘Magnificient 7’ (maafkan daku United).

Baru beberapa bulan lalu, tepatnya pada teriknya siang hari bulan Agustus, Luis Suarez datang ke jurnalis Guardian, Sid Lowe, untuk berkeluh kesah soal nasibnya di Liverpool. Maunya Suarez sederhana: bermain di Liga Champions, Eropa tentunya, bukan Asia. Satu hal yang sudah absen dilakukan Liverpool sejak 2010 namun terus menjadi trofi bagi Arsenal sejak 2006.

Apa yang dilakukan Suarez saat itu tampak sangat konyol sampai saya menulis artikel yang mengolok-oloknya sebagai seorang badut. Entah apa di pikirannya saat itu sampai lupa bagaimana banyak Kopites yang begitu membelanya dalam kasus (konon katanya) rasial dengan Patrice Evra. Pun begitu dengan kasus gigitan ke lengan Branislav Ivanovic. Ah, jangan pula lupakan pula kaus bergambar dirinya, simbol dukungan rekan setim kepada pria Uruguay ini.

Curhatan Suraez ke media Inggris, yang sebelumnya sangat ia kritisi karena begitu memojokkan pemain asing terasa konyol, bodoh, dan menyakitkan. Acuannya, lihat bagaimana Kak MostarLFC mengganti avatar Twitter-nya dengan wajah Daniel Agger. Juga kicauan Chief Football Writer Guardian, Daniel Taylor:

Wonderful irony that Suarez now using the English media he despises so much to help him get his transfer#LFC#AFC

Itu adalah momen saat saya begitu percaya sebaiknya Liverpool melepas Si Tonggos. ‘Tak ada yang lebih besar dari klub’ adalah slogannya, dan ide bahwa dengan uang penjualan Suarez bisa membeli banyak pemain lain untuk memperkuat Liverpool menjadi argumen penguatnya. Belakangan, argumen tadi terasa konyol melihat kasus tukar guling Bale dengan rombongan pemain anyar Spurs.

Dan saya terpaksa meminta maaf, melakukan taubatan nasuha untuk tak lagi berpikir menjual bapaknya Delfina. Mencetak 19 gol dari 12 pertandingan liga seharusnya cuma dongeng. Sudah kadung tertancap di alam bawah sadar bahwa dongeng itu hanya bisa ditokohkan oleh duo manusia planet Namek: Cristiano Ronaldo dan Leo Messi. Tapi nyatanya Ronaldo baru punya 17, sedangkan Messi harus parkir di angka 8 karena cedera. Satu-satunya yang menyamai Suarez hanyalah Diego Costa, itupun dari 17 pertandingan dan tiga kali sepak penalti. Catat, Suarez tak mengambil penalti satu kalipun musim ini. Jangan-jangan dia ini manusia planet Saiya.

Ada keraguan saat Suarez pertama kali bermain usai melakoni larangan bertanding, melawan Sunderland 29 September lalu. Apakah ia masih punya hasrat mencetak gol di klub yang sudah ingin ia tinggal? Apakah ia masih Suarez yang sama yang mengejar bek-bek lawan seolah mereka itu Sophia Balbi? Ia menjawab dengan dua gol. Dan selanjutnya Suarez pun terus mencetak gol, melampaui Daniel Sturridge, dan membuat Roberto Soldado seperti orang dungu. Tolong jangan buat saya menyebut nama samurai Arsenal itu.

Suarez yang dulu (Agustus) bukanlah yang sekarang. Ia bahagia, membuat eksistensi kiper lawan menjadi kurang terlihat, jahil di hadapan bek lawan, dan secara tak langsung memberi pesangon untuk Andre Villas-Boas. Baru kemarin ia memberi kado natal kepada Kopites dengan memperpanjang kontrak. Satu yang tak terpikir Agustus kemarin itu. Kabarnya ia mendapat gaji tertinggi sepanjang sejarah Liverpool. Dan tak ada yang protes Suarez mengangkangi Gerrard, sama seperti kita yang tak pernah memprotes kapitalisme karena memang menikmatinya, suka tidak suka. Kini Arsene Wenger harus menaikkan tawarannya, setidaknya di angka £ 40 juta + 2. Setidaknya tambahan £ 1 bisa diberikan untuk menambah uang susu Benjamin S.

Liverpool dan para pendukungnya sudah pernah dibuat melayang dan menggelinjang dengan aksi briliannya melawan United tiga tahun lalu. Kita juga pernah dibuatnya membelanya atas aksi yang kadang jika dipikir lagi memang tak seharusnya dibela. Kopites ia bikin marah kala ia curcol merajuk minta pindah. Suarez juga memancing aksi komedi berdiri yang dilakoni Wenger.Kini, ia membuat Liverpool bermimpi lagi meraih gelar EPL.

Rasanya seperti naik roller coaster. Wooos.

©Shesar_Andri, 23 Desember 2013

sesekali menatap layar TV yang lupa dinyalamattalittikan

Advertisements

3 responses to “Naik Roller Coaster bareng Suarez

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s