Antara Liverpool, Rambut Brendan, dan Tipisnya Pembalut Nabilah

Ponsel tipis? Bagus. Televisi tipis? Bagus. Pembalut tipis? Bagus, Nabilah suka. Sayangnya segala ketipisan tadi tak berlaku untuk rambut dan skuat tim olahraga. Di sepakbola, mirisnya ketipisan itu terjadi pada skuat dan rambut Brendan Rodgers. 

 

Mari pukul rata tak ada satupun dari kita yang melewatkan pertandingan Liverpool kontra dua klub biru, Manchester City dan Chelsea, karena disiarkan TV nasional yang juga bernuansa biru. Tak usah kita bahas betapa sayangnya sudah membuang keunggulan satu gol. Juga betapa tidak buruknya permainan saat meladeni tim berjuta imajinasi dari Manchester walaupun kemudian sedikit ngampret menghadapi London biru. Satu hal yang pasti di mata saya adalah betapa kerenya skuat Liverpool musim ini.

 

Ketika sebuah tim menjadi sangat rindu dengan bocah ingusan seperti Flanagan, tentu ada yang tidak beres. Belum lagi kerinduan pada Enrique, pria yang hobi pamer foto berdua dengan sesama pria di kamarnya? Di seberang sana, lawan malah pongah memarkir Milner dan Dzeko di basement 2 Etihad Stadium. Lawan Chelsea setali tiga uang. Torres, Mata, Cole, Essien adu betah duduk di bangku cadangan lawan Brad Smith, Jordan Rositer, dan Kau-Tahu-Siapa. Baiklah, Iago Aspas nama aslinya.

 

Tak ada yang pasti di dunia ini kecuali hobi media Inggris membikin gosip dan tipisnya skuat Liverpool musim ini.  Mengabaikan Smith dan Rossiter yang belum cukup matang, saat ini skuat Liverpool hanya dihuni 17 pemain. Satu pemain lebih sedikit dari yang biasanya saat kita main PES atau FIFA. Andai masih ada Borini, Assaidi, Wisdom, Robinson, dan Suso barangkali tak akan bikin pusing Oom Brendan.

 

Salahkah keputusan meminjamkan mereka? Tidak sama sekali bagi saya. Brendan pasti sudah tahu resiko meminjamkan mereka. Kedatangan Aspas, Alberto, Cissokho, dan Moses sudah diperhitungkan menjadi aspal pelapang jalan Borini dan kawan-kawan dipinjamkan ke klub lain. Yang salah diperhitungkan barangkali beberapa pemain tadi belum siap, lebih bapuk dari perkiraan, atau ya memang untuk lelucon saja.

 

Alberto terlalu kurus, begitu juga Aspas. Cissokho terlalu biasa saja. Dan Moses terlalu religius di lapangan hingga enggan menipu lawan. Bisa jadi Brendan pun sama kagetnya dengan pilihannya di jendela transfer musim panas lalu. Saya setuju dengan pendapat bahwa debut Smith lalu adalah manuver politik Brendan jelang 2014. Oom Henry, ini lho skuat tipis setipis pembalut. Mbok tolong beli pemain matang siap pakai. Cerdik bukan main otak politik Brendan. Jangan-jangan pria ini sewa konsultan politik abal-abal dari Nusantara.

 

Memanggil beberapa pemain untuk kembali dari masa peminjaman? Ide yang bisa dengan mudah ditolak dengan menyodorkan sosok Lord Voldemort. Memulangkan pemain yang masa belajarnya belum selesai hanya membuat semua serba tanggung. Shelvey saat itu sedang bagus-bagusnya dan sangat berkembang di Blackpool. Andai saat itu masa belajarnya di Blackpool bisa tuntas, siapa yang tahu Shelvey sekarang ini sudah sejajar dengan Ross Barkley atau Mario Goetze plus rambut hitam lebat a la Sunsilk? 

 

Bagi yang jarang nonton La Liga, percayalah bahwa Suso sedang dipuja-puja dan jadi mesin Almeria jauh-jauh dari Liga Adelante. Catat, Suso baru saja dinobatkan sebagai peringkat 6 dari 50 pemain muda Spanyol terbaik musim 2013/2014 versi Inside Spanish Football. Yah walaupun bocah ini pernah satu kali didenda gara-gara tidak ikut latihan pagi dengan alasan konyol: begadang nonton The Voice. Assaidi kalian tahu sendiri. Wisdom dan Robinson rutin bermain di Derby County dan Blackpool.

 

Kembalinya mereka dalam keadaan diburu-buru khawatirnya justru membuat mereka jadi pemain tanggung. Diberi main nggak bagus-bagus amat, nongkrong di bench juga eman-eman. Sama tanggungnya dengan beli PS3 sekarang ini.

 

Maka heranlah jika Natal kemarin Liverpool bisa pesta marshmallow di puncak tanpa gangguan beruang laut. Itu semata-mata karena bejo. Jangan anggap saya sedang mengajak saudara seiman untuk pesimis dan rendah target. Mari berpikir realistis, dengan skuat setipis ini bisa juara? Ledekan dahsyat bagi City, Chelsea, dan Arsenal. Nongkrong di zona UCL dan mencegah United tampil di sana sudah cukup menyenangkan. Kita bisa menertawakan mereka puas macam kelas menengah yang terpaksa makan di warung karena harga elpiji 12 kg naik dahsyat.

 

Tak ada larangan untuk bermimpi jadi juara, tapi mungkin bukan musim ini. Saya mengajak saudara seiman untuk tidak bodoh macam Menteri Olahraga kita yang sok mau sabet 120 emas di SEA Games. Pongah karena sebelumnya juara umum di tanah air lalu terjerembab cuma dapat 65 emas dan panen hujatan.

 

Percaya saja Sterling atau siapapun hampir pasti tak akan dipinjamkan. Berhenti percaya gosip soal pinjam pemain. Logika saja, mana ada orang kere yang mau kasih pinjam uang kecuali di zaman nabi.

 

Lebih baik berdoa saja kalian yang muslim agar Mohamed Salah bisa digondol dan kualitasnya memang jempolan. Atau agar doanya tidak vulgar, ucapkan ini:

 

“Ya Allah, berilah Zaf Iqbal teman mengaji dan sholat Januari ini. Lebih bagus lagi kalau dia orang Mesir yang pintar bikin martabak. Amin,”.

 

©Shesar_Andri, 4 Januari 2014

berdoa Nabilah cepat ‘besar’

Advertisements

4 responses to “Antara Liverpool, Rambut Brendan, dan Tipisnya Pembalut Nabilah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s