Bukan Sebuah Dongeng

Image

 

Di sebuah desa yang tenang, hiduplah sebuah keluarga yang bersahaja. Dulunya mereka adalah keluarga yang terpandang dan dihormati seluruh desa. Hamparan ladang dan anak-anak mereka yang sukses membuat segan orang-orang di desa. Namun seiring berjalannya waktu keluarga tersebut semakin terperosok. Di saat keluarga lain terus berpacu untuk meningkatkan derajat hidupnya, keluarga tersebut tenggelam oleh kebesaran nama nenek-moyang mereka terdahulu dan berakhir menjadi sebuah keluarga yang biasa-biasa saja. Sebuah keluarga yang hanya dikenal oleh tetangganya yang ber-radius 5 blok dari tempat mereka bermukim. Tidak ada yang ingat siapa mereka di masa lampau. Tapi tak apa, keluarga tersebut masih berjuang dengan semangat sembari berharap untuk mengembalikan nama besarnya di masa lalu.

Di sebuah keluarga itu terdapat seorang anak laki-laki satu-satunya.

Ia pergi ke sekolah swasta terbaik di desa itu, bersaing dengan anak-anak yang terbaik pula. Sekolah yang didanai oleh konglomerat kaya dari kota. Semua keluarga menginginkan anaknya untuk masuk di sekolah itu, karena nanti di akhir tahun 4 anak terbaik akan dibawa ke kota untuk dijadikan pekerja di kota. Singkatnya, mereka akan hidup makmur. Tapi, bukan itu tujuan anak laki-laki itu sekolah disana, ia bermimpi untuk menjadi juara kelas disana. Ia sudah bosan menjadi pendengar setia cerita kesuksesan teman-temannya yang sudah berhasil di kota. Ah betapa indahnya menjadi juara kelas disana.

Ia rindu menjadi seorang juara.

Dan layaknya seorang agen asuransi berbicara mengenai produknya, anak 20 tahun itu terus berusaha meyakinkan teman sekelasnya akan kemampuannya (entah apa motifnya, yang jelas ia lakukan itu tiap tahun). “Lihat aku teman-teman, tahun ini akan menjadi milikku! Aku akan menjadi juara kelas”. “Tentu saja, suatu hari nanti”, teman-temannya menimpali, sembari tertawa diiringi ke-tidak pedulian. Anak itu sudah terlampau sering mengucapkan hal tersebut dan sudah terlalu sering mendapatkan reaksi yang serupa tiap tahunnya. Hal yang menyebabkan semua teman sekelasnya gentar akan tetapi ketika diucapkan terlalu sering tidak lebih dari erangan nikmat prositusi sewaan di desa tersebut. Semu, tak ada yang peduli.

Sedikit yang bocah itu ketahui teman-temannya sebenarnya memiliki keyakinan akan anak tersebut. Keyakinan bahwa ia akan mampu kembali menjadi juara. Tanyakan itu kepada si juara tahun lalu yang terobsesi dengan dirinya. Oke mungkin menjadi juara kelas terdengar suatu hal yang naif untuk anak tersebut. Kelas itu diiisi oleh banyak orang kaya (lama&baru) dan murid-murid lainnya yang tak kalah cerdas. Tapi, seorang juara harus mulai dari suatu tempat bukan?

Dan tibalah tahun ajaran baru. Selama awal semester anak itu menunjukkan hasil yang meyakinkan. Nilai A dan masuk deretan 4 besar digenggamnya dengan susah payah. Puncaknya ketika pembagian rapor semester yang bersamaan dengan hari Natal, anak tersebut menduduki peringkat pertama di kelasnya! Menguntit di belakangnya anak si kaya, si kaya baru, dan si kaya yang pelit karena sibuk merenovasi rumahnya sendiri. Si juara tahun lalu? Entahlah, ia sibuk berbicara mengenai dirinya yang sudah berusaha dengan baik tapi tidak mendapatkan hasil yang maksimal, sambil menatap nanar foto kakaknya yang terlebih dahulu sekolah disana.

Oke, mempertahankan lebih susah daripada yang terlihat. Tetapi, siapa yang tidak mengalami hal yang serupa? Mendekati akhir tahun ajaran, peringkat anak tersebut mulai melorot ke peringkat 4. Wajar, kalau anda mendapatkan hasil buruk dibarengi oleh belum terbiasanya menerima pujian ketika berada di puncak. Si kaya dan si kaya baru mengkudeta posisi anak tersebut. Jelas, mereka lebih kaya dan kaya (dan kaya). Harga buku pelajaran termahal anak laki-laki tersebut hanya cukup untuk membeli rautan pensil si kaya. Tetapi anak tersebut terus berjuang, hingga mendekati 12 ujian terakhir anak tersebut hanya berselisih 4 poin dari si kaya.

Untuk pertama kalinya, anak tersebut merasa yakin. Berbeda dengan keyakinannya di awal musim, kali ini apa yang diyakininya terasa nyata.

Semua terlihat mungkin untuk anak laki-laki itu. Semua orang mulai memperhitungkannya. Bahkan si kaya yang merupakan tempat si anak laki-laki itu menjadi kacung di masa kanak-kanak, mulai bersuara bahwa ia sudah siap untuk menjadi juara dengan menganalogikan perebutan juara layaknya seekor kuda. Wow, ketika si kaya tengah berusaha mempertahankan posisinya di pucuk (yang luar biasa susah) ia menyempatkan diri berkomentar tentang teman sekelasnya. Ia pasti sangat yakin akan kemampuannya.

Kali ini, anak laki-laki itu menjawabnya dengan tenang, “Saya lebih seperti seekor cihuahua di kuda-kuda perebutan juara kelas”.

Namun kali ini, semua hening, tidak ada satu kelakar-pun atau komentar sinis yang keluar. Semua terdiam. Apalagi si juara kelas tahun lalu itu.

@LFC_Hardline

Advertisements

One response to “Bukan Sebuah Dongeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s