Adit, Santo Rafael, dan The Brendan’s Lads

Ketika akhirnya Brendan Rodgers diumumkan menjadi manajer Liverpool yang baru, menggantikan legenda Kenny Dalglish, Adit merasa begitu gamang. Hatinya tidak keruan. Bukan hanya karena Dalglish seperti diperlakukan tidak hormat oleh para petinggi dari Amerika itu, bukan juga hanya karena karir Rodgers yang belum memberikan hasil apapun, bukan karena Adit merasa manajer baru Liverpool itu sebagai manajer naif satu-dimensional yang bicara tentang “death by football.” Adit merasa kesal karena bos-bos Amerika itu bahkan tidak menelpon seseorang manajer legendaris yang tinggal di Wirral dan memiliki anak-anak dengan aksen scouse. Mereka tidak menelpon Rafael Benitez!

Buat Adit, Rafael Benitez adalah seorang jenius yang mampu membuat Djimi Traore mempunyai trofi Liga Champion di kamarnya. Tidak pernah dia merasa sepercaya diri itu bahwa Liverpool mampu menandingi semua raksasa Eropa, selain di tangan Benitez. Masih jelas di dalam ingatannya bagaimana Benitez memainkan inverted fullback untuk melawan seorang inverted winger bernama Lionel Messi. Bagaimana menurunkan Hamann di babak kedua ternyata bisa memberikan 3 gol. Bagaimana raksasa Madrid yang sombong dengan surat kabarnya yang menulis “Esto es Anfield. Y Que?” (This is Anfield. So What?) sebelum pulang dengan muka merah setelah diberi pelajaran mengenai arti This is Anfield.

Image

Rafael Benitez adalah manajer brilian, yang kegagalannya lebih dikarenakan brengseknya para bos dari Amerika. Benitez adalah pembawa harapan baru bahwa mungkin Liverpool akan bisa kembali menduduki puncak klasemen Liga Premier di akhir musim. 

Lalu, siapakah Rodgers? Pria Irlandia yang senang berbicara superlatif. Dia berbicara tentang posession football, tentang passing dan passing, dan membeli Joe Allen dengan 15 juta pounds. What the fuck is in his mind, pikir Adit. Adit merasa Rodgers adalah manajer tanpa rencana B. Para fans pun sibuk menghibur diri dari kekalahan dengan mencari data-data statistik yang menunjukkan Liverpool lebih superior. 96% akurasi passing, saudara-saudara! Brilian! 64% possession, men! Luar Biasa! 

Kalah itu biasa. Yang penting kalah dengan statistik bagus. Adit meringis.

Tapi beberapa bulan ini Adit kembali merasa gundah. Hatinya sebenarnya sedang berbunga-bunga. Liverpool belum terkalahkan di 2014 dan masih memiliki kemungkinan untuk juara. Ah, tapi Adit tidak mau serakah. Asal bisa kembali ke Liga Champion, yang lainnya adalah bonus. Liverpool melakukan semua itu sambil menghancurkan Tottenham, Arsenal, dan Everton. Adit merasa bahwa tim Liverpool ini adalah tim Liverpool paling menghibur yang pernah dilihatnya. Adit bermimpi lagi.

Brendan Rodgers dinilainya sudah banyak berubah. Datang dengan maksud membuat Liverpool menjadi tim yang memuja possession football, namun akhirnya hadir dengan tim dengan counter attack paling mematikan. Tim ini masih harus diuji melawan juara-juara Eropa lain tentu saja. 

Yang membuat Adit gundah adalah karena dia merasa adalah seorang Rafaistas sejati. Setahun ini dia masih berharap Santo Rafael akan kembali ke rumahnya di Anfield. Namun keraguan muncul. Dia tahu bahwa dengan semakin baiknya performa Liverpool di bawah Rodgers, semakin kecil kemungkinan Benitez kembali. Bukan hanya itu, dia bahkan mempertanyakan, inginkah dia Benitez kembali? Dia merasa berdosa.

Seiring dengan berakhirnya musim ini, Adit akan menentukan pilihan. Tetap menjadi Rafaistas, atau berbalik memeluk agama baru: The Rodger’s Lads. Ah culun sekali namanya. Entahlah, tapi apalah arti sebuah nama. Siapkah Adit dibaptis? 

Advertisements

One response to “Adit, Santo Rafael, dan The Brendan’s Lads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s