The Mainstream, The Sidestream, and The Hipster

Dalam konteks pembagian jenis-jenis suporter suatu klub, sampai sejauh ini tidak terdapat kategori-kategori yang jelas membedakan antara satu dengan lainnya. Beberapa kata yang sering digunakan seperti “fanatik”, atau “glory hunter”, dan lainnya tidak serta merta memberikan definisi yang jelas. Namun, melihat fenomena beberapa tahun terakhir ini, saya melihat ada 3 jenis suporter sebuah klub berdasarkan klub yang didukungnya.

The Mainstream. Kelompok ini pada dasarnya pendukung klub-klub besar yang memang sedang populer. Biasanya juga berhubungan dengan seberapa komersilnya klub tersebut di saat ini. Pendukung Manchester United, sebagai organisasi sepakbola paling sukses secara komersil selama bertahun-tahun, cocok menyandang golongan ini. Otomatis, seringkali golongan ini adalah mayoritas dari pendukung klub-klub lainnya. Pendukung Real Madrid dan Bayern Munchen perlahan namun pasti dapat juga digolongkan sebagai The Mainstream. Kedua tim tersebut memang belum sukses secara komersial di Indonesia, namun seiring dengan semakin suksesnya kedua mega klub tersebut, pasar akan mengikuti. Pendukung tim mainstream biasanya tipikal yang cari aman, lebih suka mengejek dibanding diejek, dan senang mengejek bersama-sama teman satu golongan. Tidak semuanya dapat digolongkan “glory hunter” memang. Itu juga yang menyebabkan pendukung Manchester United belakangan ini bisa jadi lambat laun menjadi golongan selanjutnya. Bila diandai-andai, golongan ini mirip para fans Backstreet Boys dan Nsync di masa jaya mereka, lalu ketika lagu-lagu mereka mulai cheesy dan band-band pop rock banyak yang tidak kalah ganteng, mereka ganti menyindir boyband-boyband mantan idola mereka.

070512roo

Akankah Rooney bernasih seperti Nick Carter?

The Sidestream. Golongan ini seringkali terlihat (sok) idealis dan ingin kelihatan beda sendiri. Mereka mendukung tim-tim yang kurang jelas prestasinya dan seringkali orang yang mendengar mengernyitkan dahi mendengarnya. Contohnya seperti teman sekolah saya Bobi, yang sejak 10 tahun yang lalu sudah mengibarkan bendera angsa kebesaran Tottenham Hotspurs. Betul-betul aneh. Selain Jurgen Klinsmann dan David Ginola, saya tidak ingat pemain Hotspur lain di masa itu yang bisa dianggap idola. Pendukung Liverpool dan Chelsea sejak tahun 90-an pun bisa dianggap masuk kategori ini. Tipe pendukung ini seringkali tidak menyadari bahwa mereka senang menyiksa diri sendiri dengan harapan demi harapan yang tidak kunjung tiba. Kekalahan dihadapi dengan murung sendirian sambil mendengar Thom Yorke memberi dukungan “The best you can is good enooouughhhh…” Well, the fact is, it’s not.

Thom-Yorke-007

The best I can is good enough, eh, Thom?

Golongan lain yang saya perhatikan mulai timbul seiring jaman yang semakin aneh adalah tipe pendukung Hipster. Kelompok ini mendukung tim yang seringkali sedang menanjak penampilannya, namun belum mencapai kesuksesan gilang gemilang klub-klub mainstream. Mereka pun seringkali ingin dianggap mengapresiasi kejeniusan klub-klub kelas menenengah yang tetiba bisa mencuri perhatian publik. Semenjak Barcelona era Pep, saya melihat banyak fans Barca muncul bagai cendawan dan berkata lantang bahwa Tiki-taka is the way forward. Mereka membicarakan the passing and pressing game serta Lionel Messi kepada teman-teman mereka seakan mengagumi indahnya suara Astrud Gilberto dalam genre Bossanova. Ketika Dortmund mulai menonjol, mereka mulai menganggap Jurgen Klopp sebagai Andy Warhol permanajeran sepakbola.

hi-res-181736044-borussia-dortmund-head-coach-jurgen-klopp-looks-on_crop_exact

The Andy Warhol of Football Management?

Beberapa bulan belakangan, angin hipster mulai berhembus ke klub kesayangan kita, Liverpool. Dari klub kelas sidestream, Liverpool mulai mencuri perhatian semenjak perlahan tapi pasti menanjak di tabel Liga Inggris. Menanjaknya pun dengan gaya yang sangat hipster, membantai Spurs, Everton, serta Arsenal. Para pengamat memuji, para pemain dan manajer klub lain memuji, dan golongan hipster pun mulai meninggalkan Dortmund menuju Liverpool. Mereka melihat Brendan Rodgers seperti Erlend Oye dalam genre indie pop. Mereka membicarakan tentang akademi, pemain muda, dan menganalisis dengan cermat permainan gung-ho Liverpool. “Gung-Ho” is the way forward, they might say. Kelompok ini tidak beracuan pada gelar semata. Terlihat keren dan cerdas, itulah tujuan utama.

 

Advertisements

3 responses to “The Mainstream, The Sidestream, and The Hipster

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s