Menanti Kiprah The Reds “Di Luar” Lapangan

Liverpool FC 2014 Players' Awards Dinner

Musim ini diakhiri dengan air mata. Ya, itu terjadi pada saya. Terlepas dari seluruh prestasi istimewa mengejutkan tim merah ini, kegagalan mengangkat trofi Premier League menjadi kekecewaan yang masih jelas membekas. Chant We’re gonna win the league masih terngiang di kepala hingga saat ini. Bahkan, kadang chant tersebut kami kumandangkan di salah satu tempat favorit di bilangan jakarta selatan, sambil membayangkan keindahan. Ah, pada akhirnya semua kembali menjadi bayangan.

Tak bisa dimungkiri, optimistis tinggi terlihat di mata semua aspek Liverpool. Dari pemain, manajer, manajemen, hingga fan, semuanya memiliki keyakinan musim 2013-14 adalah kebangkitan The Reds setelah tenggelam cukup lama di lumpur hidup. Kembali ke ajang Liga Champions bisa menjadi pecut semangat. Para pemain berkualitas pun seyogyanya mau untuk bergabung dengan Liverpool. Tak ada alasan untuk tak mendapat target utama di bursa transfer musim panas nanti.

Jika boleh menyebutkan, nama-nama yang belakangan sering dihubungkan dengan The Reds adalah Steven Caulker, Dejan Lovren, Adam Lallana, Michel Vorm, James Milner, hingga Emre Can. Bukan nama-nama besar, tetapi, mereka terbilang sosok yang memang dibutuhkan Brendan Rodgers secara kasat mata. Itu hanya beberapa, dan pasti akan ada nama-nama baru hingga bursa transfer ditutup nanti. Namun, dari nama-nama di atas sudah terlihat ciri pemain yang diinginkan oleh B-Rod.

Lini belakang Liverpool kerap menjadi masalah pada musim 2013-14. The Reds boleh berbangga-bangga akan lini depan yang telah mencetak 101 gol, tetapi kebobolan 50 gol? Menjadi rekor kebobolan terburuk kedua setelah Tottenham Hotspur di delapan tim teratas Premier League. Bahkan rekor kebobolan Crystal Palace yang finis di peringkat 11 lebih baik dengan 48 gol.

Memiliki kapten Slovakia, Pantai Gading, Denmark, dan Pangeran muda Paris sebagai empat bek tengah utama, tetapi belum juga memberikan performa terbaik? Bukan maksud untuk menyesali, tetapi apa yang terjadi jika tak ada back-pass Kolo Toure ke kaki Victor Anichebe? Atau Martin Skrtel yang tak membuat empat gol bunuh diri? Mamadou Sakho yang tak keberatan kaki, hingga Agger yang seandainya bisa dimainkan lebih sering? Ah sudahlah, peringkat dua sudah cukup “membanggakan” bukan?

Wait, biarkan paragraf ini saya persembahkan untuk sesosok Tampan, Sawo Matang, memiliki Tato menawan, yang menjadi pilihan utama bek kanan. Seorang yang membuat mata seluruh fan terbelalak akan aksi overlap spesial yang melebihi sebagian besar Full-Back, step over, kemudian melakukan tembakan yang menuju planet Mars, atau crossing menyilang pendek tanpa arah. Glen Fuckin Johnson.

Tidak, saya sama sekali tak bermaksud menghina Glenjo. Tak ada yang meragukan kapasitasnya sebagai salah satu pemain senior di Liverpool bersama Steven Gerrard, Daniel Agger, dan Martin Skrtel. Serta tetap menjadi bek kanan nomor punggung dua Timnas Inggris di Piala Dunia nanti. Tetapi tolonglah, dia sudah tak muda lagi, dan tim ini jelas membutuhkan sosok yang lebih berguna ketimbang Glenjo. Apa? Nope, jangan ingatkan saya akan dua kesalahannya saat menghadapi Crystal Palace. By The Way, Queens Park Rangers baru dipastikan promosi, mungkin anda rindu dengan Harry Redknapp, Glen?

Tak berbeda dengan Jose Enrique yang cedera sepanjang musim dan mulai fokus dengan pekerjaannya sebagai pelawak di Instagram, atau fotografer Semi-Nude untuk sang kekasih, cukup banyak yang meragukan kapasitasnya nanti saat kembali ke lapangan hijau. Jika ada satu bek yang patut mendapat pujian musim ini, dia adalah Jon Flanagan. Bermain sepanjang musim sebagai bek kiri, yang notabene bukan pos aslinya, Flano memberikan performa super. Cedera Enrique pun menjadi Blessing in Disguise, Flanagan tampil istimewa sepanjang musim sebagai The New Scouser Back menggantikan Jamie Carragher.

Alasan-alasan di atas menjadi faktor mengapa Rodgers membutuhkan dua Full-Back anyar berkualitas di masing-masing sisi, serta bek tengah yang dianggap mampu bersaing dan beradaptasi. Tak usah menyebut nama karena pasti akan membuat diri lelah sendiri.

Selain full-back dan bek tengah yang menjadi prioritas, Rodgers merupakan tipe manajer yang lebih memilih pemain versatile ketimbang sesosok yang hanya hebat di satu posisi. Can, Lallana, dan Milner adalah tiga sosok gelandang yang bisa bermain di pelbagai sisi lini tengah sama baiknya. Lallana yang menjadi pemain terbaik Southampton musim ini sudah bermain di semua sisi lini tengah selain gelandang bertahan. Milner terkenal dapat bermain di dua sisi sayap, gelandang box to box, gelandang bertahan hingga bek kanan. Emre Can? Pemain muda berbakat Jerman keturunan Turki tersebut terkenal sebagai gelandang yang mampu menempati pos DM, CM, hingga AM. Satu yang membuat spesial, Can juga cukup sering tampil sebagai bek kiri dan tak mengecewakan.

Tahu sendiri ketika Jordan Henderson absen, tak ada pemain yang mampu menggantikannya dengan cukup baik. Lucas Leiva dan Joe Allen belum bisa mencapai level yang diberikan Hendo sebagai Box to Box istimewa yang sangat pas dengan taktik Rodgers. Kehilangan Hendo pada tiga laga seperti kehilangan sosok penyeimbang yang membuat nyaman.

Terakhir, yang menurut saya pribadi tak terlalu krusial tapi tak kalah penting adalah back-up striker. Menilik sedikit ke tim juara, Manchester City, mereka memiliki empat striker kelas dunia yang kualitasnya hampir sama, Sergio Aguero, Edin Dzeko, Alvaro Negredo, dan Stevan Jovetic. Masing-masing memiliki kelebihan tersendiri, sehingga dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan taktik Manuel Pellegrini selaku manajer.

Daniel Sturridge dan Luis Suarez memang tak tergantikan. Ditambah Raheem Sterling yang semakin menunjukkan tajinya sebagai pemain muda terbaik di Eropa. Tetapi, SSS jelas bisa lelah dan butuh sosok yang tak kalah berkualitas yang menunggu mereka di bench dan siap tampil kapan saja. Jelas, Iago Aspas bukan jawabannya. Iya, Cornernya memang indah, namun…

Fabio Borini bisa menjadi jawaban, tetapi, dengan segala rasa hormat, kapasitasnya belum mencapai level SaS. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu Borini bisa membuktikan performanya, setidaknya sebagai Supersub. Satu striker berkualitas lagi rasanya dibutuhkan.

Rodgers memang juru taktik hebat, tetapi hal tersebut tak cukup. Dia belum memperlihatkan secara maksimal kapasitasnya sebagai juru transfer. Coutinho, Sturridge, dan Mignolet, mungkin hanya tiga pemain ini yang secara jelas memberikan kontribusi kepada tim. Dua anak emasnya, Joe Allen dan Borini belum bisa menjadi pilihan yang disesali jika tak dimainkan. The Marquee One, Mamadou Sakho, juga masih beradaptasi terkait taktik dan bahasa.

Bursa transfer musim panas nanti akan sangat krusial bagi B-Rod. Mudah-mudahan dia bersama sosok yang seluruh fan cintai, Ian Ayre, mampu mendatangkan pemain berkualitas (tak perlu bintang) yang cocok dan cepat beradaptasi dengan taktik di atas lapangan. Kembali ke jalur perebutan juara Premier League dan berlaga di Liga Champions, tak ada alasan bagi Rodgers untuk tak berhasil mendapat incaran utamanya di bursa transfer seperti yang terjadi pada bursa-bursa sebelumnya.

Jika ada yang bisa dan harus dipercaya, Brendan Rodgers adalah orangnya. Kecintaannya kepada Liverpool terlihat sangat kuat. Pun menandatangani kontrak baru tanpa beban berat. Mudah-mudahan Rodgers bisa membuktikan kapasitasnya, bahwa dia bukan hanya juru taktik, tapi juga seorang manajer yang mampu mendapat pemain yang tepat. Sehingga fakta bahwa Liverpool tak butuh Director of Football memang benar adanya.

@redzkop

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s