Drama Lucas Leiva

Source: Zimbio.com

Source: Zimbio.com

Di H+2 seperti sekarang, seharusnya saya menulis tentang Steven Gerrard untuk memperingati usia 34 tahunnya. Tapi demi kebaikan semesta, saya mengurungkan niat itu. Sangat sulit menahan nafsu untuk tidak membahas kulit pisang legendaris di gameweek 36 antara Liverpool vs Chelsea. Memang saya mencintai Stevie G, tapi fakta itu tetap saja tak menutupi nafsu untuk menyindir tingkah-tingkah komedinya. Untung saja kapten tak punya bakat jadi komedian.

Melempar memori ke musim lalu, musim yang hebat tapi enggan saya kenang, perhatian saya tertuju pada pria pirang Brasil. Lucas Leiva menunjukkan pada kita tanpa selubung sebuah drama roda kehidupan. Di atas, lalu ke tengah, lalu ke bawah. Begitu seterusnya.

Teringat memori di 2007 saat Lucas pertama kali datang ke Melwood. Media melabelinya sebagai Kaka selanjutnya. Saya waktu itu percaya saja walau rambut Lucas gondrong pirang, sedangkan Kaka hitam pendek. Rupa Kaka tampan, Lucas ya gitulah. Kepercayaan itu makin kental saat melihat video Lucas semasa di Gremio. Bocah 20 tahun ini punya sesuatu.

Tapi Rafael Benitez, pelatih Liverpool saat itu, malah mengutak-atik peran Lucas. Dari gelandang serang  jadi gelandang bertahan. Semula mengatur serangan, menatap gawang lawan, lalu menunggu serangan dan coba mematahkannya. Ini radikal. Mereka yang pernah bermain di dua posisi itu pasti paham.

Seharusnya saya tak heran. Dirk Kuyt yang produktif bersama Feyenoord saja dia ubah jadi defensive winger.

Walau butuh waktu lama, tapi pengamatan Rafa terbukti jeli. Kasus Lucas ini mirip seperti Christian Hadinata yang sukses saat meminta Rexy Mainaky beralih dari pemain tunggal putra jadi ganda putra. Bedanya, tak ada Ricky Soebagdja di samping Lucas.

Per 2010, Lucas adalah gelandang bertahan terbaik Liverpool, dan salah satu terbaik di Britania Raya bahkan Eropa. Sebagai gelandang bertahan, saya melihat Lucas adalah hasil fusion antara Sergio Busquets dengan Javier Mascherano. Busquets pandai membaca arah permainan, Mascherano punya tekel jempolan terlepas kesembronoannya.

Pernah pada satu pertandingan, Yaya Toure si gelandang brilian Manchester City impoten seketika di lapangan. Semua yang dilakukan pria Pantai Gading itu salah walau maksudnya sudah benar. Lucas membuat Yaya seperti gamer yang baru pertama kali main Winning Eleven. Tombol ini buat apa sih?

Lucas pernah membuat lapangan tengah jadi kekuasaan mutlaknya. Tak ada yang boleh dan bisa main-main sesuka pusar mereka. Entah itu David Silva ataupun Yaya Toure.

Salah satu penghargaan tertinggi untuk pemain sepak bola adalah julukan. Gabriel Batistuta yang hobi cetak gol pernah dijuluki Batigol. Zlatan Ibrahimovic yang suka aneh-aneh punya nama lain Ibrakadabra. Lucas juga pernah: Leivapool.

Tapi itu semua tinggal kenangan. Ada indikasi semua kerja keras dan kecakapan Lucas itu tersimpan di ligamen lututnya. Maka ketika otot itu putus pada November 2011, hilang sudah Lucas yang jago. Selamat datang kembali Lucas medioker.

Cedera ligamen lutut adalah Nemesis bagi atlet, semua cabang saja. Kehebatan puncak Ronaldo punah diterkam cedera ini. Hanya sedikit orang yang mau bodoh dan tak acuh walau otot penting ini putus. Di Indonesia kita punya Hendro, atlet jalan cepat. Di Liverpool ada Mas Leiva.

Lucas kehilangan kecepatannya, pembacaan permainan, juga penempatan posisi. Ini membuat frustrasi. Bukan soal jeleknya permainan Lucas, tapi lebih ke betapa kejamnya garis hidup. Hari ini bisa saja kita kencan dengan selebriti, tapi besoknya dia hilang diculik Gerombolan Siberat. Kenikmatan yang sekedipan mata. Lucas tak bisa berlama-lama di pucuk performanya.

Masih ingat betul bagaimana dulu, sebelum 2010, Lucas dihina-hina di forum diskusi. Bahkan di website resmi Liverpool sendiri. Dosa Lucas adalah ia belum cakap bermain di posisi barunya, dan para pendukung kompak menghujatnya.

Positioning Lucas adalah pria pirang bodoh yang tak pantas bermain di Liverpool. Lucas jangan sampai turun ke lapangan. Seolah-olah dia pembawa kusta yang lolos dari pembuangan ke Pulau Onrust.

Saya berani bertaruh semangkuk bubur kacang hijau Lucas pasti pernah membaca hinaan-hinaan itu. Dan kita harus angkat topi bagaimana ia tak mewek sedikitpun. Lucas hanya terus berlatih keras setiap hari. Apakah ia pernah membaca novel yang ada isi petuah man jadda wajadda? Bisa jadi.

Tak bisa tidak. Musim lalu saya benar-benar selalu berharap Lucas tak masuk dalam line-up. Melihat penampilan back four Liverpool saja sudah bikin frustrasi, jadi janganlah Lucas jadi toppingnya.

Banyak dari kita mungkin lupa, saat ini Lucas sudah tujuh musim mengabdi untuk The Reds. Lebih lama dari Xabi Alonso, Luis Garcia, dan ehm… Fernando Torres. For seven years he gives his all if not his best.

Melihat Lucas mengakhiri karir di Liverpool, dalam kedudukan tinggi seperti Jamie Carragher dua musim lalu, tak ada keberatan. Andai ia harus pindah pun tak ada keberatan. Yang jadi keberatan adalah jika ada lagi cemoohan dan hinaan untuk Lucas. Siapa tega?

©Shesar_Andri ~ Jakarta, 1 Juni 2014

sedang tidak dalam performa puncak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s