Delfina dan Suarez (bagian 1)

Delfina Faza Maudya, 16 tahun

 

Usia Delfina Faza Maudya masih ranum, 16 tahun. Usia ketika banyak remaja sebayanya banyak mengidolai bahkan tergila-gila dengan boyband Boys Who Cry asal Texas. Delfina tak tercemar virus serupa, entah dari Amerika maupun Korea. Ia lebih suka tenggelam dalam lautan buku dan gelombang wawasan di dalamnya.

Dalam catatan kependudukan sipil, Delfina tercatat sudah putus sekolah. Tapi itu cuma sebuah kedok. Sebetulnya ia bersekolah di akademi sihir Hogwarts di Inggris. Berada di King’s Station dan Peron 9 ¾ adalah rutinitas semesteran buatnya. Di dalam kereta, ia hampir selalu satu kompartemen dengan temannya yang kaya raya, Gareth William Bale. Delfina curiga remaja bermuka primitif itu suka padanya.

Tinggal di asrama mana Delfina, itu sudah jadi tebakan murahan. Otaknya terlalu brilian untuk masuk ke asrama selain Ravenclaw. Dan lagi ia tak cukup licik untuk bisa disukai penghuni Slytherin. Delfina rutin masuk tiga besar siswa terpintar Hogwarts di angkatannya, dengan selalu menjadi nomor satu di pelajaran Sejarah.

Delfina sudah belasan tahun tinggal bersama paman dan bibinya. Beruntung mereka berdua tak sekejam paman dan bibi Harry Potter, Gryyfindor senior Delfina yang sangat populer di jagat sihir. Kata paman dan bibinya, Delfina dicampakkan ibunya, Sipon, yang pergi ke luar negeri karena tak tahan dengan tekanan hidup. Ayahnya, Ahmad Suwarno Respati, dipenjara di tempat yang tak diketahui karena kasus kriminal yang tak bisa ditolerir: membikin cacat lima Kepala Departemen Kementerian Sihir.

Sebagai Darah Lumpur, kedua orangtuanya sama sekali bukan penyihir asli, wajar jika Delfina tak terlalu menyukai Quidditch. Tapi alasan utamanya adalah acrophobia, ketakutan berlebih terhadap ketinggian.

“Aku beruntung cuma mengidap acrophobia Seamus. Bayangkan kalau aku punya Claustrophobia, aku tak akan berani membuka hadiah natalku dari Santa Klaus! Jika itu terjadi, aku tak akan pernah punya coklat kodok kesukaanku ini untuk melewati malam tahun baru,” Seamus Coleman, remaja Irlandia Utara itu ingin tertawa, tapi segera merasa itu tak sopan setelah tahu Delfina serius.

Oleh karena itu, dalam sebuah tugas membuat esai sejarah olahraga Delfina memilih olahraga para Muggle, sepak bola. Ia pernah memainkannya, begitu juga dengan kriket, tenis, dan bulutangkis. Tapi sepak bola menjadi pilihan setelah sahabatnya, Gabrielle White bersedia membantu. Gabby paham betul masalah urusan sepak bola dan ia merupakan pendukung kelas berat Milton Keynes Dons. Gabby tak segan beradu sihir dengan Seamus yang sering meledek MK Dons yang cuma berlaga di divisi bawah.

“Mentang-mentang Everton ada di Liga Primer, cih!” begitu Gabby biasa menggerutu.

Di kelas, tiba juga giliran Delfina maju mempresentasikan esainya. Ia mengambil subjek Liverpool FC atas saran Gabby. Sahabatnya itu sering memakai LFC sebagai senjata saat adu mulut dengan Seamus.

“Liverpool FC adalah tim tersukses kedua di Britania Raya setelah Manchester United,” Delfina memulai presentasinya, “Pada 2014 klub ini nyaris kembali ke jalur juara jika bukan karena blunder aneh kapten mereka Steven Gerrard. Itu adalah pukulan berat bagi klub, pendukung, dan sang kapten sendiri. Tapi pukulan terburuk buat LFC adalah saat FIFA, federasi sepak bola dunia Muggle, menghukum Luis Suarez yang adalah penyerang terhebat mereka dalam satu dekade terakhir,”

Delfina berhenti sejenak. Seisi ruangan seketika hening dan ada wajah-wajah terkejut di sana. Kemudian ia melanjutkan.

“Suarez dihukum karena kedapatan empat kali menggigit lawannya, Otman Bakkal, Branislav Ivanovic, Giorgio Chiellini, dan Pangeran Siahaan. Ia dilarang melanjutkan bermain di Piala Dunia karena dihukum larangan bermain sembilan pertandingan dan tak boleh punya aktivitas apapun terkait sepak bola selama empat bulan.

“Pendapat saya pribadi, berdasar kajian sejarah dan data yang saya kumpulkan, hukuman itu berlebihan seperti diakui oleh ketiga korbannya, kecuali Pangeran Siahaan. Logika sehat saya menyimpulkan, menggigit bahu dan lengan lawan tak lebih berbahaya daripada aksi seperti: mematahkan hidung dengan sikut, mematahkan tulang kering, menendang perut hingga berakibat kebocoran usus, dan mempraktekkan sepakan kungfu ke penonton. Aksi yang sudah dilakukan berulang kali tak sepatutnya membuat FIFA bias dengan menyisihkan dampak dari aksi tersebut. Sekian dan terima kasih.

Tak ada tepuk tangan. Bahkan Seamus dan Gabby pun kali ini sepakat untuk terbengong-bengong. Guru Sejarah, Albert Camus, dengan tenang cuma berkata, “Detensi kunjungan satu hari ke Azkaban,”.

Kunjungan ke Azkaban adalah salah satu hukuman terberat bagi siswa Hogwarts. Delfina protes dan memintan penjelasan. Tapi Mr. Camus hanya memintas Seamus menjelaskannya di luar kelas.

“Kau tak tahu Suarez? Luis Alberto Suarez Diaz? Kau tak pernah membaca tulisan tentangnya?”

“Tidak,” jawab Delfina.

“Dia itu Muggle paling berbahaya bagi dunia sihir. Bagi kami Darah Murni, gigitan di leher bisa menetralkan kemampuan sihir. Belum lagi ia juga pernah punya rencana memunahkan Quidditch lalu menggantinya dengan sepak bola. Well, untuk yang terakhir itu aku tak keberatan. Tapi Delfina, caramu keberatan dengan sanksi Suarez itu sangat berbahaya buatmu!”.

“Tapi bukankah sepak bola semakin hari semakin mengelak dari kontak fisik berlebihan. Kemarin aku bicara dengan hantu Luis Aragones di Kastil Spanyol, dia bilang di tahun 60 sampai 70-an, kontak fisik lebih brutal dari sekarang. Bahkan kadang ada pemain yang patah kaki, tapi mukanya tampak bosan saat ditandu keluar. Tidakkah aneh kalau menggigit bahu atau lengan dihukum lebih berat dibanding mematahkan kaki atau bahkan yang bisa merobek usus lawan?” Delfina meminta Seamus memakai akal sehatnya.

“Tapi tetap saja kau harus tahu posisimu Delfina. Ah sudahlah, kau memang keras kepala. Bawa ini saat kau pergi ke Azkaban. Batu ini akan menjagamu dari pengaruh Dementor,” Seamus memberinya batu sejenis akik.

“Terima kasih Seamus,” ia pun berlalu meninggalkan Seamus. (bersambung ke bagian 2).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s