Delfina dan Suarez (bagian 2-habis)

Delfina Faza Maudya, 11 tahun

 

Delfina diantar oleh penjaga sekolah sampai ke pintu gerbang Azkaban. Suasana di sana lebih buruk daripada apapun yang pernah Delfina temui. Dementor ada di mana-mana. Tapi tak satupun yang tertarik mendekatinya. Terima kasih untuk batu pemberian Seamus.

Di tiap sel, tertulis kejahatan yang dilakukan para tahanan. Menggigit leher, menggigit lengan, menjambak rambut, mencabut paksa kumis lebat… Aneh pikir Delfina. Tak ada kejahatan serius yang pernah mereka lakukan. Mungkin di ujung sana tempat para penjahat kelas hiu.

“Delfina,” satu suara memanggilnya, membuat gadis itu bergidik. Ia tak ingin menoleh ke arah sel, tapi rasa ingin tahu mengalahkannya.

Ia hampir melompat saat tahu suara itu bukan berasal dari tenggorokan manusia. Tepat di depannya, seekor berang-berang yang sedang bersantai di kolam.

“Kau dihukum karena menulis tentang Suarez?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Sudah ada beberapa yang datang ke sini. Mereka semua kembali dengan kondisi setengah kecerdasan dan ingatan yang hilang. Dementor itu yang melakukannya. Aku ingin tahu, kenapa mereka tak mendekatimu?”

“Aku membawa ini,” Delfina menunjukkan batu pemberian Seamus.

“Ah batu bertuah. Pantas saja. Kau tahu kenapa di sini sangat sunyi? Dementor itu mencuri kebahagiaan kami, instan. Saat mereka satu meter di dekatmu, tanpa komando kau akan tertawa. Tertawa terus sampai kotak tertawamu rusak dan tak bisa tertawa lagi. Ah itu tak penting, omong-omong Suarez juga ada di sini,” kata berang-berang itu.

“Betulkah? Dari mana aku tahu kau bukan pembual?”

“Aku tahu banyak tentangnya. Pria itu banyak bercerita padaku saat kami masih satu sel. Dia dimasukkan ke Azkaban karena desakan FIFA. Ya, Sepp Blatter punya koneksi dengan Kementeria Sihir, jadi itu bukan hal mustahil.

“Kementerian Sihir berbohong soal gigitan Muggle bisa menetralkan kemampuan sihir. Lewat ramalan Sybill Trelawney FIFA juga mendapat petunjuk bahwa Suarez akan menjadi pemain terbaik dunia sekembalinya dari hukuman. Memberinya penghargaan teragung setelah menjatuhkan sanksi tak masuk akal akan jadi coreng buat muka Blatter. Untuk itulah mereka mengirimnya ke sini,” celoteh berang-berang itu. Dan ia masih melanjutkan, mengabaikan Delfina yang hendak bicara.

“Dalam masa empat bulan itu Suarez juga berhasil mengorek semua borok FIFA dan FA, membuat posisinya semakin berbahaya dan rawan diculik.  Terutama keberhasilan Suarez membongkar dokumen sanksi ringan atas pelanggaran brutal di masa lampau semisal menendang selangkangan, tekel empat kaki oleh dua pemain, membenturkan kepala kiper ke tiang gawang, dan ada beberapa lainnya. Mereka cuma mendapat kartu merah langsung. Tak kurang dan tak lebih,”.

Delfina cuma terbengong-bengong. Kalimat yang sempat akan keluar tertahan lagi di tenggorokannya.

“Jadi Anif, Sipon ibumu saat ini ada di Solo. Ia berjualan batik di sana,” nama Anif dan Sipon membuat Delfina terperanjat.

“Hah! Dari mana kau tahu nama kecilku dan nama ibuku?” tanya Delfina.

“Jadi Anif, beritahu Seamus kalau ingin melakukan kekerasan di sepak bola janganlah tanggung-tanggung. Jangan sekedar menggigit atau menjambak. Patahkan kaki, hidung, atau telinga lawan saja sekalian. Menendang penonton pun tak masalah, hukumannya bakal lebih ringan daripada apa yang dilakukan Suarez,”.

“Katakan siapa dirimu!” teriak Delfina tak sabar.

Berang-berang itu beranjak dari kolam. Berjalan ke arah Delfina. Dan sekonyong-konyong berubah menjadi sesosok manusia. Animagus.

Delfina tak pernah tahu tampang Suarez karena tak ada fotonya di perpustakaan Hogwarts. Tapi wajah Animagus di depannya itu familiar. Ada seberkas wajah yang biasa ia lihat.

“Aku Luis Alberto Suarez Diaz. Atau nama asliku Ahmad Suwarno Respati, semasa kecil biasa dipanggil Asuares atau cukup Asu. Anif, I am your father,”.

 

©Shesar_Andri, Jakarta 29 Juni 2014

Advertisements

6 responses to “Delfina dan Suarez (bagian 2-habis)

  1. Pingback: Delfina dan Suarez (bagian 1) | LFC HARDLINE·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s