Sakitnya Tuh di Sini

Pengakuan: saya ini kafir. Setahun lalu, 18 Juli 2013, Steven George Gerrard berjalan santai beberapa puluh sentimeter di depan mata. Saya melihat Gerrard sama seperti kaukasian lainnya, tidak terlampau istimewa. Apalah artinya berfoto dengan pria yang belum pernah mencium trofi EPL itu? Maka sebagai Kopite, saya ini kafir. Mengkufuri nikmat kata seseorang yang me-mention saya di Twitter.

Di balik kekafiran, Steven Gerrard adalah idola saya. Saya melihatnya sebagai orang suci asal Whiston yang cara berbicaranya selevel lebih nikmat didengarkan daripada Jamie Carragher. Ibadah bulanan saya adalah menonton cuplikan golnya ke gawang Olympiakos di Liga Champions 2005. Saya sudah khatam kalimat:

“Mellor, lovely cushion header… and Gerraaaaaaaard! Oh what a hit son, what a hit!”

Ibadah 90 harian saya adalah menonton cuplikan golnya ke bawang Middlesbrough, masih di tahun yang sama. Saya juga sudah khatam kalimat:

“Riise to Gerrard. Gerraaaaaaaaard, oh that was really special from the Liverpool captain!’

Sayang disayang, komentatornya adalah Inggris tulen. Coba saja dia Arab asli atau Jepang totok, pasti ada teriakan “Allahu akbar” ataupun “Meteoru shutto!”.

Di lapangan hijau bergaris pinggir putih, Gerrard adalah Oda Nobunaga dan Liverpool adalah Nippon. Sayangnya, selalu ada Akechi Mitsuhide di dalam cerita Nobunaga. Sayangnya, Mitsuhide itu adalah para penyerang Liverpool yang te o pe be ge te.

Membaca banyak artikel tentang Gerrard dan Liverpool sejak 2004, saya selalu mengira Gerrard dan Michael Owen adalah Beavis dan Butthead dalam versi nyata yang lebih manusiawi mukanya. Saya selalu berpikir Gerrard dan Fernando Torres adalah versi lain Bart dan Millhouse. Saya selalu berhusnudzon Gerrard dan Luis Suarez adalah Greg dan Rowley yang rajin berteriak “Zoo Wee Mama!”

Tapi, selayaknya banyak kafir lain, saya salah. Owen, Torres, dan Suarez bukanlah Butthead, Millhouse, pun Rowley. Mereka lebih mirip politisi yang rajin berkoalisi. Lebih sering putus di tengah jalan daripada bersama-sama menjemput sekotak susu di pucuk panjat pinang.

Gerrard sudah sering mengirimkan umpan-umpan tanpa pikir panjang untuk Owen. Jenis umpan yang mirip misil yang hampir selalu tepat sasaran. Mereka yang gemar bermain Winning Eleven pasti paham umpan semacam ini sulit dieksekusi. Ini lebih dari sekedar memencet tombol segitiga hijau.

Saya pernah punya rekan bermain sepakbola yang seperti itu. Naturalnya, saya adalah bek tengah atau bek kiri. Sesekali maju sebagai gelandang. Bersama kawan saya itu, sebut saja Toni Blank, sepakbola terasa jauh lebih mudah daripada karambol. Tanpa perlu meihat posisinya, saya bisa memberikan umpan yang berujung gol. Mata boleh fokus melihat bola (tanda bahwa Anda pemain yang payah), tapi sudah bisa tahu di mana posisi dia. Romansa sepakbola.

Maka saya bisa mengklaim apa yang Gerrard rasakan saat mendapati Torres sebagai duetnya. Gerrard bisa tetap menengok ke tribun, mencari Alex Curran, tanpa menurunkan kualitas umpannya untuk Torres. Dan sakitnya, Torres pun melakukan yang serupa kepada Gerrard. Silakan tengok umpan tumitnya ke Gerrard saat melawan Everton. Sungguh Agon-Unsui ataupun Hiro-Noda tak ada apa-apanya dibanding mereka.

Relasi Gerrard-Suarez memang tak setingkat itu. Tapi kasat mata terlihat, bagi Gerrard kaki dan gigi Suarez adalah karpet merah menuju trofi EPL. Dan trofi EPL adalah anak laki-laki buatnya, sesuatu yang lama didamba namun entah kapan datangnya. Maka ketika karpet merah itu digulung, dikemas, lalu dipaketkan ke Barcelona, Gerrard cuma bisa berlibur ke pantai bersama Alex dan putri-putrinya.

Ditolak seseorang yang sudah lama disayangi memang menyakitkan. Gagal menjadi presiden setelah 10 tahun pedekate apalagi. Tapi sebelum merasa menjadi manusia paling malang di Bumi, lebih baik tengoklah kisah Gerrard. Kata Gerrard,

 

“Andai lukamu seperti lukaku. Sakitnya tuh di sini,”

 

Born as a Red, will die as a Red

Born as a Red, will die as a Red

 

©Shesar_Andri, Jakarta 23 Juli 2014

atas nama bangsa Merseyside

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s