Pembalut Nabilah Tak Lagi Tipis

“We go again lads!”

 

Apa rasanya kehilangan penyerang paling menggigit dalam sejarah Liverpool FC? Sedih. Melihat Luis Suarez dijual ke Barcelona hampir mirip dengan kisah nyata beberapa tahun lalu saat isi memory card PS saya dihapus total oleh seseorang yang masih misterius hingga kini. Tinggal satu boss lagi dan Final Fantasy VI akan saya tamatkan. Saya sedih dan marah untuk kemudian menolak bermain RPG selama satu caturwulan.

Buat saya Suarez adalah bentuk manusia dari buku Arus Balik karya mendiang Pramoedya Ananta Toer. Terlalu langka untuk didapatkan di pasar barang jarang sekalipun. Suarez, sama seperti Pramoedya sendiri, adalah individu yang kemunculannya barangkali sama langkanya dengan Komet Halley atau huruf N di bungkus permen karet Yosan.

Maka andai seseorang kehilangan Arus Balik dan mendapat ganti sekardus novel picisan, itu adalah kejahatan literasi. Dia setidaknya harus mendapat ganti beberapa jilid buku Remy Silado beserta satu Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai pendamping dan pembimbing wajib.

Musim panas ini, Liverpool mendatangkan Rickie Lambert, Adam Lallana, Dejan Lovren, Emre Can, Lazar Markovic, dan Divock Origi. Jujur saja, dalam hal bakat saya merasa belum ada yang bisa menyamai kualitas Suarez di posisinya masing-masing. Markovic? Tentang bakatnya yang sepadan dengan Messi dan Ronaldo itu kan cuma quick count dari pengamat.

Memprihatinkan memang. Tapi saya memilih setuju dengan pendapat bahwa Liverpool (atau sudah jadi Southampool?) tak akan menjadi Tottenham Hotspur 2.0. Langkah Rodgers untuk memperdalam kualitas regu sudah benar. Harus ada dua pemain dengan kualitas tak beda jauh di tiap posisi dan tiga kiper dalam sebuah regu. Ini adalah logika dasar, kecuali regu Anda punya Profesor Oscar Ortega yang sanggup membuat Atletico Madrid menjalani La Liga dan Liga Champions dengan pemain itu-itu saja dalam intensitas tinggi yang tak mengendur.

Ditambah kembalinya Suso, Pepe Reina, dan Seba Coates maka kedalaman skuad itu ada. Bukan lagi cuma lamunan kosong di warung kopi. Rodgers tak perlu lagi mengambil langkah politis seperti saat memasukkan Brad Smith lalu menyuruhnya menjadi gelandang kiri, padahal dia seorang bek. Rodgers ingin menunjukkan betapa kurusnya regu Liverpool kepada John W. Henry.

Liverpool punya Reina, Jones, dan Mignolet di pos kiper. Ini sudah cukup. Ada Sakho, Skrtel, Coates, Toure, Agger (kalau nggak jadi dijual), dan Kelly yang bisa mengisi pos bek tengah. Di kanan ada Johnson dan Flanagan, atau kalau terpaksa pun masih ada Kelly. Di kiri ada Enrique dan Jack Robinson, atau Flano juga boleh.

Emre Can, Gerrard, Allen, Henderson, atau Lucas bisa menjadi gelandang tengah. Sterling, Coutinho, Ibe, Lallana, dan Markovic bisa bermain di sayap. Kreativitas bisa hadir dari Suso, Sterling, Lallana, dan Coutinho. Dan tentu urusan mencetak bisa dipasrahkan pada Sturridge, Lambert, maupun Sterling dan Borini.

Saya pernah menganalogikan regu Liverpool dengan pembalutnya Nabilah JKT48. Maka kali ini pembalut Nabilah sudah tebal, tidak lagi tipis.

—————————————————————————————-

—————————————————————————————-

—————————————————————————————-

—————————————————————————————-

—————————————————————————————-

Merasa senang? Saya tidak. PR kedalaman regu bolehlah dianggap khatam dengan catatan. Regu Liverpool sejauh ini sudah dalam tapi cuma kelas teh konsumsi dalam negeri. Tahukah kalian bahwa yang kalian minum di sini itu seduhan pucuk teh kualitas paling bapuk?

Susah untuk menang dalam adu argumen siapa yang lebih hebat, Mignolet atau Courtois? Reina atau Cech? Jangan juga mencoba masuk dalam debat pemilihan fullback, GlenJo atau Dani Alves? Flanno atau Filipe Luis?

Suka atau benci, dalam regu Liverpool musim lalu memang cuma Suarez yang ada dalam kelompok pemain kelas dunia. Gerrard pernah ada di sana, tapi itu sudah lama berselang. Saat Miley Cyrus masih ndolor. Jika CR7, Messi, Robben, dan Suarez ada dalam satu kelas di Oxford University, maka Coutinho, Sterling, Sturridge, Sakho, dan Henderson masih dalam tahap menulis esai untuk mendapatkan beasiswa ke sana. Suso, Can, Ilori, Flanno, dan Borini bisa jadi masih didekap bingung siapa profesor yang cocok jadi pembimbing studi mereka.

Pasrah gagal lagi mengangkat  trofi Barclays Premier League? Kalau sepakbola adalah algoritma, silakan saja. Jalan lain, berdoalah Rodgers bisa menjadi doppelgangernya Diego Simeone, Juergen Klopp, atau Gaizka Garitano. Jangan lupa ajak Nabilah makan takoyaki dan minum ocha.

 

©Shesar_Andri , Jakarta, 31 Juli 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s