Pengaruh Memborong Pemain di Musim Baru pada Performa Tim (Studi Kasus pada Liverpool FC 2014/2015)

 

Bab I

Latar Belakang

Tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Pepatah ini berlaku untuk banyak hal, mulai dari fisik manusia, judul skripsi mahasiswa, hingga tentunya daftar pemain di klub olahraga setiap musim. Tidak ada klub yang memilih statis dengan tidak melakukan perubahan komposisi skuat. Pemain payah diganti menengah, yang menengah diganti mewah, yang mewah diganti payah demi menambal kegagalan divisi pemasaran mencari uang tambahan.

Perubahan komposisi skuat mempunyai tiga kemungkinan: bertambah kuat sesuai harapan, mempertahankan performa musim sebelumnya, dan jatuh ke dalam jurang kepayahan. Yang terakhir ini jelas paling dihindari, tapi terkadang klub malah melakukan manuver yang menjerumus ke sana.

Musim ini klub kota pelabuhan Liverpool Football Club ‘terpaksa’ menjual pemain kunci mereka Luis Suarez. Sebuah penjualan yang menghasilkan duit £71,28 juta. Sama sekali tidak sedikit dan bisa membeli sedikitnya dua pemain top yang kualitasnya sepadan dengan Suarez. Toh Brendan Rodgers memilih meraup segerombol pemain kelas menengah, sebut saja Dejan Lovren, Alberto Moreno, Javier Manquillo, Adam Lallana, Rickie Lambert, Lazar Markovic, dan Emre Can. Perdebatan bisa diarahkan pada sosok Mario Balotelli yang kelasnya masih mengambang antara hebat atau biasa-biasa saja.

Membeli banyak pemain hampir berarti masuk ke dalam masa transisi. Ada penyesuaian yang harus dilakukan. Dan sejauh ini pada masa transisi itu penampilan Liverpool tertukar dengan Southampton. Prediksi orang waras, Soton ada di papan menengah ke bawah, lalu Liverpool di papan atas. Dan tabel klasemen sejauh ini menunjukkan hasil sebaliknya.

 

Bab II

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menggeledah sejauh mana derajat ketepatan keputusan belanja Brendan pada musim panas 2014. Hasil ini diharapkan menjadi rujukan sang manajer, pemilih klub, dan fans dalam mengambil keputusan demi masa depan Liverpool FC.

 

Bab III

Penelitian Terdahulu

  1. Tottenham Hotspur Ditinggal Gareth Bale karya Andre Villas-Boas dan Daniel Levy. 2013. Penerbit Elex Media Komputindo.

 Boss Tottenham Hotspur Daniel Levy melego Gareth Bale ke Real Madrid seharga £82,71 juta. Sebagai kompensasinya, didatangkanlah Erik Lamela, Roberto Soldado, Etienne Capoue, Paulinho, Christian Eriksen. Vlad Chiriches, Nacer Chadli. Sebuah keputusan yang berakhir senyuman untuk Bale karena berhasil mengangkat trofi UCL di akhir musim. Andre Villas-Boas dipecat di sepertiga akhir musim karena gagal membangun tim sepeninggal Bale.

Spurs musim lalu dibangun di sekitar Bale. Maka ketika Bale pergi lalu Levy mendatangkan segerombol pemain potensial alih-alih satu atau dua pemain kelas wahid, Villas-Boas lah yang ketiban sampur. Ada perbedaan nyata antara pemain potensial dengan pemain jempolan yang sudah matang. Penulis skripsi ini menyarankan agar Levy menekuni kisah Freddy Adu.

 

  1. Eksodus Rutin Pemain Rayo Vallecano karya Paco Jemez. 2013. Penerbit Hasta Mitra.

Dengan anggaran tahunan hanya sekitar £6-7 juta, Rayo Vallecano terpaksa bergantung pada pemain gratisan dan pinjaman. Tiap musim mereka kedatangan belasan pemain, dan kehilangan belasan pula. Ada yang habis kontrak, tapi lebih banyak yang kembali ke klub asal ataupun dibeli klub lain demi sedikit profit. Mengejutkannya, klub pupuk bawang di kota Madrid ini selalu stabil. Stabil di tabel klasemen menengah ke bawah tapi tidak sampai di zona merah. Dua musim lalu mereka bahkan berhasil lolos ke pentas Eropa tapi sayang kondisi keuangan yang cekak membuyarkan mimpi mereka bisa berjumpa Liverpool di level benua.

Paco Jemez sang manajer plontos ini terpaksa membangun tim kolektif. Tidak ada cerita menjadikan satu pemain sebagai pusat permainan. Atas nama keberlangsungan hidup musim selanjutnya, Jemez tak bisa melakukan itu. Tapi ini kemudian menjadi sebuah berkah karena mereka jarang tampil sangat buruk dan bertahan di geng medioker.

Penulis skripsi memuji pada kesadaran Jemez atas minimnya sumber daya, juga pada keberaniannya untuk teguh pada prinsip bermain menyerang tanpa peduli siapa lawan mereka.

 

  1. Deco dan Dinho Pergi, Muncullah Messi karya Pep Guardiola. 2009. Penerbit Bentang Pustaka

Deco, di samping Xavi, adalah nyawa di lapangan tengah Barcelona. Ronaldinho, adalah penyihir yang sedang menggenggam dunia. Rasanya semua pemain bisa dilewatinya tanpa kesusahan. Bahkan publik Santiago Bernabeu pernah ia buat memberikan standing ovation padanya. Deco dan Dinho adalah dua cahaya utama tim di samping Xavi dan Eto’o, maka ketika klub melepas keduanya dalam satu jendela transfer yang sama, fans bertanya-tanya. Sakit kak?

Tidak. Barcelona sudah menyiapkan Lionel Messi dan Pep Guardiola memberinya peran yang sangat pas. Tidak ada transisi lama karena Messi sudah menjadi bagian kecil sistem permainan Barcelona. Bedanya, kali ini ia mendapatkan bagian lebih besar. Messi dan kawan-kawan memenangkan enam gelar pada 2009/2010. Maka, kehebatan mana lagi yang kau dustakan?

Penulis skripsi ini mengapresiasi transisi mulus Barcelona. Tongkat sihir Dinho cakap diestafetkan ke Messi.

 

Bab IV

Metode Penelitian

  • Menonton laga-laga Liverpool FC musim ini, tak hanya di Barclays Premier League tapi juga di Liga Champions.
  • Mengamati reaksi fans atas performa LFC melalui linimasa Twitter.
  • Membaca analisis pakar terhadap strategi yang dimainkan, perfoma pemain, dan penampilan tim keseluruhan.

 

Bab V

Hasil dan Kesimpulan

Pembelian dan penjualan pemain di tiap jendela transfer tidaklah terhindarkan. Sebuah klub yang dibangun di sekeliling satu pemain terbukti kesulitan ketika pemain poros pindah dan tidak ditemukan gantinya. Menjualnya untuk profit besar, lalu menggantinya dengan sekelompok pemain kelas menengah bukanlah keputusan cerdas. Cenderung abai dengan nasib klub tetangga malah. Solusinya adalah dengan lebih dulu menyiapkan pemain poros lain di dalam tim sebelum melepas ke klub lain. Transisi tidak boleh membikin syok pemilik klub, fans, dan rumah judi.

Atau bisa menggantikannya dengan pemain yang kelasnya setara. Diego Costa, Alexis Sanchez, atau Angel Di Maria setidaknya punya kelas yang tidak terlampau jauh dari Suarez. Jika ingin membangun tim kolektif dengan biaya rendah, lakukan sepenuh hati. Jangan lupa untuk mempekerjakan manajer yang tepat, Paco Jemez atau Philippe Montanier misalnya. Atau jika tidak mau, bersabarlah menikmati periode fluktuatif bernama masa transisi.

 

©Shesar_Andri ~ Jakarta, 4 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s