Tea Time with Lexie

sumber: hqwallbase.com

sumber: hqwallbase.com

I

Sore hari di bulan Januari. Bagi orang Inggris, tak ada yang lebih menyenangkan daripada menyeruput secangkir teh bersama orang terkasih. Di sanalah Steven George Gerrard, di teras rumahnya, duduk bersama Lexie putri keduanya, adik dari Lilly-Ella dan kakak Lourdes. Si bapak baru saja mengumumkan sesuatu yang hanya terpikir pada malam seusai Keajaiban Istanbul: pindah dari Liverpool FC.

Lexie tak pernah menghadapi situasi ini: pindah dari Merseyside? Apa aku akan bisa seperti Yotsuba? Apa aku akan bisa mendapatkan teman seperti Fuuka, Ena, Miura, Torako, dan Jumbo? Apa aku akan berpisah dengan Ellen? Padahal kami sudah seperti Maruko dan Tamae.

“Dad, kenapa harus pindah?”

Gerrard hanya tersenyum, berlalu menyeruput teh hangatnya.

——————————————————————

II

Menjuarai Liga Primer selalu menjadi resolusi Gerrard setiap tahun. Bukan soal ambisi pribadi semata, tapi klub dan pendukung keseluruhan. Puasa sejak 1990 jelas kelewat lama bagi klub yang pernah ditasbihkan menjadi yang terhebat di Inggris dan Eropa. Selama kurun waktu itu entah sudah berapa nyanyian olokan yang dilantunkan pendukung rival. Yang terkini, banyak pula meme cemoohan yang dibikin. Paling populer? Jelas aksi Gerrard mencium kamera. Dua kali!

Entah sejak kapan beberapa orang geram melihat Gerrard dimainkan sejak awal. Alasan taktik menjadi dalih. Salahkah? Tidak juga. Gerrard sudah bukan seperti dulu. Energi dan kedinamisannya sudah diuapkan usia dan cedera. Sudah risiko jadi atlet, mana bisa dia melawan?

Bermula dari geram, berlanjut ke cemoohan. Kadang sulit dipahami bagaimana puja puji masa lalu begitu gampang berganti menjadi caci maki. Dulu, acap kali Gerrard tampil, selalu ada doa untuk assist brilian ke para penyerang, terutama bagi dia yang berinisial FT. Kombinasi keduanya mengingatkan sejenak pada duet Tsubasa-Misaki, legit sekali buat dinikmati. Tendangan geledeknya membuat kita tanpa sadar melompat dari bumi beberapa senti. Satu dari banyak tendangan itu membuat Shaka Hislop gagal mengangkat Piala FA, Olympiakos batal lolos ke fase gugur Liga Champions, dan memantik reaksi komentator paling heboh yang pernah terekam padahal dia bukan orang Arab.

——————————————————————

III

“Woy, ayo lanjutkan main PS-nya! Nanggung nih!” si teman berteriak tak sabar.

Tak ada yang bisa mengganggu waktu menonton Liverpool, bahkan saat menyewa PS di rental tetangga. Liverpool melawan Middlesbrough, 2005. Riise membagi bola ke Gerrard, sekali kontrol, bola masih di udara, dan disepak keras-keras ke pojok kanan gawang dari jarak 30an meter.

“Gooool!!!” si teman sontak penasaran gol macam apa yang bisa membuatku histeris.

“Gol sinting! Kok bisa?!” kata si teman yang pendukung Juventus.

——————————————————————

IV

Klub ini boleh punya Owen, Torres, Suarez, Hyypia, dan Carragher, namun itu semua tidak mengubah fakta bahwa Gerrard adalah ikon terbesar. Jika Liverpool adalah bumi, maka Gerrard adalah Atlas yang membopongnya sendirian. Punggung dan bahu siapa yang tahan membopong beban sebesar itu sekian lama? Nyaris saja beban itu hilang lalu Tuhan bercanda lewat lapangan rumput Anfield dan pria bernama Aspas dengan sepak pojok legendarisnya.

Kemudian muncul legenda: Liga Primer tak berjodoh dengan Steven Gerrard. Sama seperti Torres dengan gelar juara bersama Atletico Madrid, Leonardo di Caprio dengan Piala Oscar, atau Shizuka dengan Dekisugi. Kasus terpeleset itu akan selalu jadi misteri. Salah siapa? Adidas? Pengurus rumput Anfield? Atau doa pendukung rival yang dikabulkan?

Paul Tomkins menulis esai brilian yang berbicara tentang Gerrard yang sudah tak lagi punya kepercayaan diri seperti dulu. Suarez sebelumnya sudah pernah blak-blakan, andai insiden kepeleset itu tak terjadi, maka ceritanya bisa lain. Gerrard adalah pria yang paling mendambakan gelar itu di antara anggota tim yang ada. Ironisnya dia sendiri yang kena sial dan membuyarkan impian itu. Toh, urusan kepeleset itu masuk dimensi kelima yang tak bisa manusia kendalikan.

Sudahlah, mungkin kalau aku pergi Liverpool baru bisa juara. Mungkin Torres dan kasusnya di Atletico mempengaruhi jalan berpikir Gerrard.

——————————————————————

V

“Dad, kenapa tidak tinggal saja dan minta duduk di bench?” Lexie bertanya lagi.

Lexie sepenuhnya sadar bapaknya sering dicemooh karena merusak permainan tim, bahwa tim bermain lebih baik jika bapaknya tidak bermain. Tapi haruskah pindah? Bukankah duduk di bench dan bermain sesekali saja sudah cukup? Apalagi terus-terusan bermain awal hanya membuat si bapak dicemooh terus.

“Pria dan pemain sejati tidak melakukan itu Lexie. Sebagai pemain kamu harus siap bermain kapan saja, di posisi mana saja. Kamu tak boleh membawa masalahmu ke lapangan. Entah itu saat anjing peliharaanmu mati, ayahmu sakit, atau kamu lupa save Goat Simulator-mu.

“Perkara bench atau starter itu urusan manajer. Banyak pemain yang berusaha keras agar bisa main sejak awal, jadi jika Dad malah minta duduk di bench tentu tidak baik buat reputasi seorang kapten. Dad bisa tidak lagi mendapat respek Paman Jordan dan yang lain,”.

Lexie memasang wajah datar, “Aku tak mengerti Dad,”.

“Kalau kamu sudah dewasa nanti pasti mengerti, cantik,” Gerrard mencubit pipi putrinya.

Sambil meminum teh hangat, Lexie masih mencari tahu, ” Dad, kita akan ke mana setelah ini?”

“Entah. Ke Persipasi Bekasi mungkin?”.

©Shesar_Andri

Jakarta, 3 Januari 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s