Canda di Akhir Masa

goodbye stevie

Menonton tarian Bali di Pulau Dewata harusnya bisa menghadirkan memori indah yang memancing seseorang berteriak, “Natsukashii!” begitu menonton ulang tarian itu lewat media apapun. Apa lacur, di kesempatan pertama saya menyaksikan para penari manggung perdana dengan audiens melimpah sampai saya yang memang pendek terpaksa berjinjit kesusahan. Begitu bersemangat, para penari itu. Buat seniman tulen, audiens dan apresiasi mereka adalah candu sekaligus katalis buat penampilan. Usai menyaksikan penampilan perdana yang ciamik walau sekejap, karena telat masuk tribun, saya terkesima.

Sial, guru melarang saya keluar dan memaksa menonton pertunjukan yang dikhususkan rombongan sekolah kami. Yang tersaji adalah kehebatan, semangat, dan gairah yang tak sampai setengah dari yang perdana tadi. Kampret, terkuburlah kesan dan memori baik yang tadi didapat. Otak lebih banyak merekam penampilan kedua yang kecut tadi. Benar-benar kampret, asal kalian tahu.

Itulah kodrat rekaman ingatan di otak. Yang baru menimpa yang lama. Yang baru lebih mudah dan praktis dijangkau daripada yang lama. Itulah penjelasan kenapa saat kuliah banyak yang merindukan masa SMA, tapi saat sudah kerja lebih banyak merindukan masa kuliah dan kekonyolan di seputar kost-kostan. Mengambil yang jangkauannya lebih dekat sepertinya lebih asyik daripada menggali-gali yang jauh.

Steven Gerrard punya nasib yang sebelas tiga belas dengan buku yang diposisikan di rak belakang sebuah toko. Apa yang terjadi pada karier sepakbolanya dalam 2 – 5 tahun terakhir akan lebih diingat oleh mereka yang menonton maupun cuma mendengar aksinya. Orang-orang perlu membuka Youtube untuk mengingat gol voli ajaibnya ke gawang Middlesbrough, sepakan “Oh you beautyyyyy!” ke gawang Olympiakos, atau bagaimana ia pernah membuat Gennaro Gattuso seperti badak tiada bercula pada suatu malam di Istanbul.

Momen-momen magis yang ia usahakan dan ciptakan tertimpa aksi ciuman ke kamera yang selalu dijadikan lelucon begini: mencium kamera adalah tanda gelar runner-up. Yang lebih kekinian, apalagi kalau bukan tragedi terpeleset musim lalu dan kartu merah 38 detik pekan lalu. Ia masuk menggantikan Adam Lallana di babak kedua, membawa gairah dan teladan. Tekel keras yang baik dan benar sempat ia ajarkan dalam tempo singkat itu. Tapi orang-orang, di masa mendatang, akan lupa dan lebih mengingat injakan kakinya ke tulang kering Ander Herrera.

Gerrard kualat. Jamie Carragher, yang bisa diumpamakan sebagai Milhouse jika Gerrard adalah Bart Simpson, mengatakan rekannya kerap bermain tanpa memakai otak, tapi hatinya. Jadilah otak balas membalas dendam. Dengan cara kerja alaminya, otak para pemirsa akan lebih banyak mengenang masa-masa kelam Gerrard bersama Liverpool. Yang baru menimpa yang lama, terus begitu sampai terkubur.

Orang-orang mudah mengubur ingatan tentang kecemerlangan Gerrard saking lampaunya hanya karena terlalu malas menggalinya. Kita bisa dengan sangat mudah melupakan bahwa Gerrard tidak pernah benar-benar bermain bersama pesepakbola kelas dunia di Liverpool. Fernando Torres dan Luis Suarez memang gemilang, tapi tidak pernah bersamaan membantu Gerrard menggapai trofi Liga Primer. Xabi Alonso dan Jamie Redknapp tentulah hebat, tapi berlainan generasi. Jamie Carragher dan Sami Hyypia jelas bek jempolan, tapi mereka belum pantas satu podium dengan Beckenbauer dan Baresi.

Alternatif kalimatnya, Gerrard tidak pernah mencicipi klub bertabur bintang a la Akademi Toho. Liverpool selama 10 tahun ke belakang adalah Gerrard + Si X + Si Y + Si Z. Gerrard, apapun apa kata para pencibirnya, adalah bilik kanan-kiri dan serambi kanan-kiri bagi Liverpool. Bahkan saat kemampuan lari, umpan, dan tembakannya jauh menurun, Stevie G tetap tidak bisa disamakan dengan kalimat peringatan batas usia pemirsa di video porno yang tiada berguna itu.

Idealnya, gol kemenangan ke gawang Manchester United menjadi perpisahan romantis bagi suami dan ayah romantis ini. Tapi, lapangan sepakbola bukan dunia role-playing game yang mengijinkan seseorang memilih peran dengan detil suka-suka. Maksud hati menjadi kapten fantastis-romantis di akhir masa, tapi nasib berwujud kaki Herrera dan kasus terpeleset mengajak Gerrard menjadi kapten ironis-miris.

Sialnya lagi cara kerja otak merekam ingatan sudah sulit digugat. Maka jangan heran dan sebal andai banyak orang mencandai Gerrard, memilih sang kapten sebagai subjek canda tawa. Di jagat candaan, mengolok-olok nasib dan fisik orang menempati kasta paling rendah dan hina. Apa mau dilawan, nasib sial menyeret Gerrard ke sana.

Suatu pagi di Manchester,

Guru: “Siapa Steven George Gerrard?”

Murid A: “Spesialis runner-up Liga Primer,”

Murid B: “Tukang cium kamera,”

Murid C: “Yang jadi meme itu bukan?”

Murid D: “Yang sering lupa masang pul sepatu itu ya?”

Murid E: “Masang tahu! Buat nginjek tulang kering,”

Murid F: “Di Caprio-nya Liverpool,”

Murid G: “Keluarnya cepet,”

Patut dicatat lalu diingat, canda tawa selalu dibutuhkan. Semoga pahala ada di sisi mereka yang dijadikan bahan bercanda, terkhusus di akhir masa.

©Shesar_Andri

Jepara, 26 Maret 2015

Advertisements

One response to “Canda di Akhir Masa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s