Analisis: Kenapa Benteke dan Bagaimana Brendan Rodgers Menghadapi Stoke City?

Musim baru akan segera dimulai kurang dari 1 bulan lagi. Seperti sedang mengejek, nasib mempertemukan Liverpool dengan Stoke City yang pada laga terakhir musim lalu mempermalukan Liverpool dengan 6-1. Sedikit banyak pertandingan ini akan menjadi beban, khususnya bagi pemain-pemain lama yang seharusnya merasa “bertanggung jawab” terhadap hasil itu. Dan, bagi Brendan Rodgers tentunya, untuk membuktikan bahwa kesalahan itu ada pada Colin Pascoe dan Mike Marsh. Ah, dan Raheem Sterling.

Yang sebenarnya terjadi, setidaknya menurut saya, musim lalu adalah musim hangover setelah musim 2013-2014 yang spektakuler. Bayangkan jadi para pemain saat itu, datang ke Anfield dengan diiringi parade di setiap pertandingan. Bayangkan adrenaline yang disemprotkan ke dalam darah selama bulan-bulan terakhir musim itu. Bayangkan melakukan semua usaha yang ada. Dan gagal. Adrenalin itu akhirnya habis juga, dan untuk waktu yang berkepanjangan. Bayangkan datang ke Anfield lagi tanpa parade itu lagi. Hampa. Hell, saya pun terkena efek hangover-nya sepanjang musim kemarin. Tidak jarang saya melihat kosong ke layar melihat pertandingan, untuk akhirnya tertidur karena bosan.

Musim transfer ini sedikit membawa semangat baru. Berhasilnya Liverpool mendapatkan Roberto Firmino dan Nathaniel Clyne dengan basa-basi yang minimal memicu harapan bahwa klub bergerak ke arah yang benar. Benteke, dengan segala kontroversinya, tetap menggambarkan seriusnya Brendan Rodgers dan FSG untuk musim depan.

Sebuah artikel bagus di FFT minggu lalu mengangkat cerita tentang berakhirnya masa-masa emas gaya sepakbola purist yang diusung oleh Barcelona-nya Pep Guardiola. Sekarang jamannya gaya Mourinho-esque. “Aku datang, aku menang.” Dan itu artinya melakukan semua cara, indah maupun membosankan, demi hasil. Substance over style, for fuck’s sake, kita bisa mendengar dia berbisik.

Brendan Rodgers termasuk tipe pelatih yang sebelumnya memegang teguh filosofi sepakbolanya. Namun, dilihat dari rekrutan musim panas ini serta pertandingan di tur pra musim, Rodgers sepertinya sedang merevisi buku filosofinya. We want to win, even if we do it badly. Jadi, tidak ada “Benteke tidak sesuai gaya Liverpool.” Gaya bermain hanyalah sebuah kendaraan, yang penting sampaikah kita ke tujuan?

Dari beberapa tweet dari @JedDavies dan @lankyguyblog, beberapa analis sepakbola yang saya ikuti, Brendan Rodgers sepertinya akan berusaha lebih direct musim depan dan meninggalkan gaya kontrol yang menekankan pada passing-pressing yang berusaha mendominasi lawan. Semua pemain diharapkan secepatnya mengirimkan bola kepada lini depan. Pemain depan mempunyai 2 pilihan, berbalik (jika bisa) dan maju sebagai unit atau memberikan lay off kepada pemain lain dan maju sebagai unit. Dengan ini, pembelian Benteke terasa lebih masuk akal. Jadi pembelian Benteke bukan berarti Liverpool akan bermain dari sayap. Lalu, kenapa bukan Balotelli? Dugaan saya bahwa ada masalah ketidaksukaan Rodgers terhadap etos kerja Balotelli.

Melihat pertandingan tur pra musim kali ini, ada beberapa kemungkinan formasi yang mungkin akan kita lihat 9 Agustus nanti.

433

433

433

Rodgers dapat kembali memakai pola 433 dengan 1 DM sebagai pilihan yang cukup aman di laga tandang ini. Coutinho dan Firmino bermain menemani Benteke sebagai 3 penyerang. Henderson dan Milner, bila tidak dihalangi cedera, dapat dipastikan menempati 2 posisi CM. Posisi DM, Emre Can diharapkan dapat meneruskan form bagusnya di timnas Jerman U21 kemarin. Tapi, saya pikir, Rodgers lebih mungkin memainkan Lucas Leiva yang lebih berpengalaman.

4231

4231

4231

Dalam posisi mengejar ketinggalan atau kesulitan membuka pertahanan Stoke City, Rodgers dapat mengganti seorang DM dengan AMC, dengan Coutinho bermain di sentral dan diapit Firmino dan Lallana/Ibe/Markovic. Formasi ini berisiko membuka lebar lini tengah dan membuat Charlie Adam yang bermain bagus menjadi seperti Iniesta. Jadi, nyaris tidak mungkin Rodgers berani menurunkan formasi ini sejak kick off.

442 diamond

442 diamond

442 diamond

Formasi yang sukses dipakai musim 2013-2014. Dalam formasi ini, Emre Can, Lucas Leiva, ataupun Joe Allen dapat menemani Milner dan Henderson di lini tengah dengan Countinho berada di belakang 2 penyerang. Cederanya Sturridge dapat digantikan oleh Firmino yang juga dapat bermain sebagai striker untuk menemani Benteke.

442 / 4222

442

442

Dengan membuang DM dan menggantikannya dengan 1 penyerang tambahan (Origi/Ings), Liverpool dapat bermain ultraofensif dengan Coutinho dan Firmino berkreasi dari kedua sayap. Baik Coutinho maupun Firmino bukanlah pemain sayap murni, sehingga akan memiliki kecenderungan untuk memotong ke dalam. Clyne dan Moreno diharapkan dapat memberikan dukungan dari belakang serta crossing untuk Benteke dan Origi. Formasi ini lebih mengekspos lini tengah dan lebih mungkin dipakai saat mengejar ketinggalan.

——————————————————————————————————————–

Pada akhirnya kita seringkali tidak peduli pada formasi yang dipakai selama cara itu dapat menghasilkan kemenangan. Sudah tidak ada lagi hangover, tidak ada lagi alasan kurangnya dukungan pemilik klub. “Mourinho can park all the bus for all he wants,” teriak salah satu fans Chelsea. Saya pun setuju. Rodgers can play a frikking Bogdan as a striker for all I care, as long as we win.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s