Mencoba Melibatkan Akal Sehat dalam Kedatangan Juergen Klopp

jurgen-klopp-liverpool_3361334

“A message to those Liverpool supporters,” Klopp berhenti sejenak, memalingkan wajahnya dari sorot kamera, mungkin sedang mencari kata-kata yang tidak ada dalam bahasa ibunya. Tiga detik berlalu, seperti mendapat ilham Klopp lalu menelan ludahnya dan kembali menatap langsung kepada kamera. Dengan yakin ia melanjutkan, “We have to change.” Jeda sekali lagi, tidak lama, “from doubter,” sepersekian detik berhenti lalu, “to believer.” Jeda terakhir dalam waktu sepersekian detik, dengan senyuman yakin, ia melanjutkan, “Now.”

***

Sejak dikaitkan dengan Liverpool, saya tidak pernah ingin menaruh ekspektasi berlebihan terhadap orang Jerman yang terlihat Jerman sekali ini. Untuk menaruh kepercayaan saya terhadap benar atau tidaknya berita akan dekatnya Klopp dengan Liverpool saja saya tak berani. Klopp, menurut saya, ada di daftar orang-orang yang tak akan pernah ditunjuk FSG untuk melatih Liverpool.

Ketika Brendan Rodgers mulai terlihat semakin menyedihkan dengan mulut yang berucap tanpa sepengetahuan otaknya, orang-orang seperti Garry Monk dan pelatih muda Norwich yang tak terlihat muda itu muncul dalam pikiran saya untuk menggantikannya. Bukan, bukan saya ingin mereka menggantikan Rodgers, pelatih Norwich itu saja saya tak tahu namanya. Pernah dengar sesuatu seperti ‘cara berpikir seseorang terkadang dipengaruhi orang-orang terdekatnya’ tidak, sih? Saya yang sudah terlalu dekat dengan cara berpikir FSG merasa mereka adalah orang yang tepat. Menyedihkan, sih.

Kembali ke saya yang tidak pernah ingin memberikan ekspektasi berlebihan kepada Klopp. Selama menjadi penggemar Liverpool, baru sekali saya merasakan keyakinan sebesar-besarnya terhadap tim semenjana ini. Waktu itu Liverpool menghabiskan sebuah tim semenjana dari London hanya dalam 20 menit. Ketika melihat sesuatu yang mendekati mukjizat itu siapalah yang tidak tergoda untuk yakin, ‘kan?

Tapi, tentu saja kepercayaan saya tidak dibayar dengan yang semestinya. Kapten saya harus terpleset.

Sejak saat itu, hal yang saya yakinkan hanya satu: bahwa saya senantiasa ragu. Tapi sayangnya, tidak seperti Descartes, keraguan saya tidak melahirkan sebuah filsafat yang mengarsiteki filsafat modern. Keraguan saya mengonsumsi kehidupan saya seperti kabut asap menggerogoti kesehatan pernapasan rakyat kita. Mulai dari kegiatan akademis, kegiatan sosial, sampai asmara! Duh.

Jadi, ketika datang orang Jerman berambut pirang yang bukan Angela Merkel suruh saya sebagai pendukung Liverpool untuk berhenti meragu dan mulai percaya, saya bingung. Situ siapa? Kami suporter Liverpool sudah terlahir untuk ragu! Seperti Inzaghi yang katanya Ferguson terlahir hanya untuk offside, kami meragu dari borok, ya Bapak Juergen.

Pernah, tahun 2009, kami mencoba percaya. Tim yang kebanyakan teriak-teriak “5 kali! 5 kali” ini menang melawan tim yang sekarang suka berteriak “20 kali! 20 kali!” di kandangnya. Tidak tanggung-tanggung, waktu itu tim ini menang dengan skor meyakinkan. 1-4! Duh, duh, ‘kan kalau sudah melibatkan hal-hal yang mendekati mustahil ini susah untuk tidak percaya.

Maka, percayalah kami. Hanya untuk melihat si “20 kali! 20 kali!” itu mengangkat gelarnya.

Membahagiakan pendukung Liverpool

Begini, Bapak Juergen. Pendukung Liverpool itu tidak jauh berbeda dari kelas menengah ngeheknya Indonesia. Contoh ya, Bapak Juergen: gembar-gembor Liverpool Way dan tetek-bengeknya, tapi pingin klubnya dibeli konglomerat Timur Tengah. ‘Kan ngehek to? Saking ngeheknya, membahagiakan pendukung Liverpool itu butuh perjuangan yang amat sangat.

Di Dortmund, membahagiakan pendukungnya tidak terlalu susah. Harga tiket tidak sebesar inflasi Indonesia tiap tahunnya. Coba bandingkan dengan Liverpool. Sebenarnya untuk mendukung secara ‘sungguh-sungguh’, tidak ada masalah untuk fans Liverpool.

Eh, mendukung secara ‘sungguh-sungguh’ itu gimana ya?

Ah, kembali ke pokok permasalahan. Buat menonton sepakbola, pendukung Liverpool itu harus menyisihkan setidaknya uang makan untuk sebulan (dalam ukuran orang Indonesia). Jadi, ketika dalam pertandingan melawan West Ham yang berakhir 0-3 itu penonton pulangnya cepat, ya wajar. Ketika mereka bisa menonton opera dengan harga tiket yang lebih murah dan mendapat hiburan yang lebih sahih, wajar mereka cepat pulang.

Apa? Nonton sepakbola itu tidak hanya nonton? Juga mendukung? Duh, Bapak Juergen, apa yang layak didukung dari tim yang kalah dari tim yang rela bayar 15 juta poundsterling buat beli Andy Carroll?

Itu membahas pendukung sepakbola di stadion. Belum membahas pendukung Liverpool yang di Twitter. Duh, Bapak Juergen, di Twitter itu yang ngehek bukan hanya pendukung sepakbola Inggris yang cas-cis-cus. Orang Indonesianya pun ikutan ngehek. Nge-tweet saja pakai bahasa Inggris, padahal bukan lulusan Harvard.

Ada akun twitter yang nama akunnya @LFC_Hardline. Lihat namanya, widih serem. Lihat bionya, waduh tiap minggu datang ke stadion pasti. Eh, rupanya orang Indonesia. Kerjaannya jelek-jelekin akun Liverpool di Indonesia yang bahasa Inggrisnya tak sebagus mereka. Bukannya bagus betul itu bahasa Inggris. Suka ngomong jorok juga! Ckckck. Ini ‘kan ngehek ya, Bapak Juergen?

Mereka juga sempat lebih mendukung Ancelotti buat melatih Liverpool daripada Bapak Juergen. Mereka kira Ancelotti mau datang ke klub yang saban hari pasti ada ngomongin tentang Istanbul. Mereka kira Ancelotti mau melatih tim semenjana macam Liverpool. Duh, duh, orang-orang macam ini ‘kan susah untuk dibuat senang.

Membuat senang pendukung Liverpool itu bakal lebih susah dari menyenangkan istri bapak sendiri, Bapak Juergen.

***

Tingginya ekspektasi kami terhadap Bapak Juergen sebenarnya sudah mulai mendekati tidak sehat. Pelatih baru mana yang tracking pesawatnya ditonton oleh kurang lebih 35.000 orang? Selain susah disenangkan, pendukung Liverpool juga semenyedihkan itu, Bapak Juergen. Melihat wawancara Bapak Juergen di LFCTV, ekspektasi yang saya kira tidak bakal bisa menjadi lebih tinggi lagi, rupanya bisa menjadi lebih tinggi.

Ekspektasi kami terhadap Bapak Juergen sebenarnya punya lebih banyak cara untuk berkurang daripada bertambah. Itulah yang ditakutkan saya, Pak. Tetapi, saat ini, tidak ada yang bisa dilakukan Bapak Juergen untuk mengurangi tingkat ekspektasi kami terhadap bapak. Lha, bapak pergi mabuk-mabukan di bar saja kami sambut suka cita. Saat ini, semua yang Bapak Juergen lakukan adalah benar bagi kami.

Kecuali, tiba-tiba Bapak Juergen kalah dari Tottenham minggu depan.

Sumber foto: skysports.com

Masnya yang nulis ini bisa disamper di @RPahlevi0503

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s