Urun Suara Agar Liverpool Juara

Trio Kwek Kwek (gambar: cdn-football.ladmedia.fr)

Trio Kwek Kwek (gambar: cdn-football.ladmedia.fr)

Ratusan hari lalu, seorang kawan dengan ngawurnya nyeletuk,

“Terkutuk ini Perpul. Kalau ada di puncak, bisa-bisa nanti Stasiun Bandung banjir. Kalau juara, bisa-bisa Homer jadi presiden Amerika,”

Itulah kenapa jangan asal njeplak wahai manusia. Liverpool ada di puncak dan Bandung betulan banjir. Kekhawatiran pertama masuk akal, yang kedua jelas sangat ngawur. Kawan tadi nyeletuk beberapa hari setelah kejadian Crystanbul. Oleh sebab ia bosan berharap, maka ia memilih Homer alih-alih Trump. Karena baginya, Homer jadi presiden dan Liverpool juara Liga Inggris sama-sama hil yang mustahal.

Saya tidak mendoakan datangnya banjir, hanya bernazar baru akan menulis Liverpool lagi kalau mereka sanggup nongkrong asik di puncak. Apalagi nongkrongnya lama, sambil nyemil jagung dan nyeruput kopi juga main Mat Goceng. Jangan buru-buru turun dikejar buka tutup arus.

Sejak ditinggal Suarez, saya sudah alpa kapan terakhir kali The Reds bermain bagus. Menonton Liverpool sepanjang musim adalah siksaan batin. Bolehlah hal itu masuk daftar nominasi ujian di neraka nanti. Apanya yang tidak menyiksa dengan siklus berharap-berdoa-kecewa selama 26 tahun? Betul memang ada klub lain yang puasa sampai 50 tahun bahkan lebih, dan justru itu anugerahnya.

Sialnya jadi Kopites adalah, mau berapa puluh musim jagoanmu apek, tetap saja ada harapan menyelip di pikiran. Walau seupil. Beda dengan klub lain tadi yang saking lamanya puasa sampai sudah lupa rasanya lapar. Pendukung Leicester City sangat mungkin malah tidak pernah kenal harapan jadi juara. Sungguh legowo adalah nikmat wajib engkau syukuri.

Dan jahatnya, sekali lagi, harapan itu kembali datang saat beberapa orang sudah mencoba untuk ikhlas. Mas-mas brewok asal Jerman dengan cara tidak sopan datang membawanya. Bayangkan dua purnama ke depan engkau ke penghulu, tapi cinta lamamu datang ngajak nonton. Bayangkan Minke didatangi Annelies sewaktu dieksil, bayangkan Njoto ketemu Rita di Taman Suropati, atau coba lamunkan Mas Snape dicolek Mbak Lily ketika asyik minum di Hogshead. Bubar sudah makna legowo.

Yang nggak asyik adalah, harapan yang dibawa mas-mas brewok tadi kurang ajir sekali ukurannya. Bukan lagi hanya muat di saku, tapi sudah harus ditampung tas gunung. Besarnya duh gusti.

Selain Hoffenheim dan Sevilla, permainan Liverpool jadi sedikit hal yang begitu aduhai sejauh musim berjalan. Mana ada trio yang lebih oke dari Coutinho-Mane-Firmino? (Ada sih, Messi-Suarez-Neymar masih lebih yahud). Yang lebih mahal banyak. Meskipun bobrok di belakang masih belum ada tambalnya, namun hal itu bisa ditutup dengan kegilang gemilangan di depan. Akhirnya setelah dua tahun lebih sosok Suarez bisa disingkirkan, walau sejenak.

Lini tengah juga membaik, pekan demi pekan. Semakin ke sini semakin jelas alasan kenapa James Milner selalu diminati klub Premier League, alih-alih Championship. Lallana yang konsisten mengikis ketidakkositenannya pun jadi elemen penting. Dan Henderson, walaupun memang sering bermain tidak cerdas, tapi sesekali juga memperlihatkan kecerdasan yang bermanfaat dunia akhirat. Belum lagi energinya yang begitu melimpah.

Pemain belakang dan kiper…. Mari ganti paragraf.

Yah, kendati harapan yang dibawa mas-mas brewok sungguh besar, namun saya bersetia dengan kawan tadi. Kami menolak berharap Liverpool juara musim ini. Pengalaman mendewasakan pikiran. Kejadian dan peristiwa merasionalkan akal.

Bukan menghanguskan harapan sama sekali, hanya saja kami tak percaya jika sistemnya tetap seperti ini. Dengan sistem sekarang, masih terbuka peluang seseorang terpeleset di pekan-pekan ujung. Kemungkinan kebobolan empat gol (walau dibalas juga dengan jumlah yang sama), yang menihilkan empat gol hebat di kandang lawan abadi, pun tetap ada. Maka dari itu sistem demikian perlu diubah.

Demi menjuarakan Pasukan Merah, PL harus menggantinya dengan sistem voting. Klub yang mendapat suara terbanyak itulah juaranya. Di sanalah peluang Liverpool sangat besar.

Caranya begini, mula-mula ke-20 klub berhak masuk bursa pemilihan. Tentunya Liverpool tidak akan juara jika peraih suara terbanyak langsung didaulat juara. Maka harus dibuat aturan, yang juara adalah mereka yang sanggup meraih 50% +1 suara.

Oleh sebab pengambilan suara dilakukan di seluruh dunia, maka Manchester United lah juaranya. Diikuti Liverpool dan Arsenal, lalu Chelsea, Manchester City, Tottenham Hotspur dan lain-lain. Melihat Liverpool yang payah dalam dua dekade terakhir, jumlah pendukungnya mungkin sedikit kalah dari Arsenal. Sehingga ada satu PR yang harus dikerjakan.

Segenap bagian Liverpool harus berusaha menarik suara dari Amerika yang kebanyakan cuma peduli basket, bisbol, dan amefuto. Banyak yang abstain tentunya, tapi di sanalah kantong suara potensial. Liverpool harus menggunakan sentimen kedaerahan. Mumpung yang punya klub anak kampung sana.

Suara potensial berasal dari penduduk Boston, yang klub bisbolnya juga dimiliki empunya Liverpool. Dengan populasi 667.000, separuh dari itu saja agaknya cukup memenangkan Liverpool atas Arsenal. Jika iya, maka melajulah The Reds ke babak final yang mengadu dua kandidat saja.

Ah, duel klasik nan abadi. Emyu versus Liverpool. Di sini, kemenangan pasukan mas-mas brewok sudah terang benderang. Ingat pepatah ‘siapa saja asal bukan emyu’? Nah, sudah jelas suara warga London, Coventry, Leeds, Leicester, dan kota lain di dunia akan masuk ke Liverpool. Pengganjalnya paling hanya suara Evertonian, yang tentu dengan mudah dibalas suara Citizens. Impas tuntas.

Dengan demikian, juaralah Liverpool. Akhirnya, setelah berpuluh tahun menahan hasrat mengangkat trofi Liga Inggris. Begitulah kawanku, sesekali penasbihan yang terbaik jangan melulu di lapangan yang jujur dan membosankan. Satu kali saja pakailah bilik suara yang butuh kecakapan negosiasi tingkat tinggi. Niscaya Liverpool kita akan berada di puncak dunia. Subhanallah walhamdulillah.

©Shesar_Andri

Jakarta, 13 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s