Omong Kosong Resolusi Tahun Baru ala Liverpool

skysports-wolves-liverpool-anfield-cup_3879577

Lalu, aku pun mengguman, “Halah, kontol.” (Sky Sports)

Tahun 2017 baru memasuki pekan ke lima. Dalam rentang waktu tersebut, Anda semua pasti masih bisa mengingat apa saja resolusi tahun baru yang Anda canangkan. Itu pun jika Anda punya resolusi. Jika tidak, mungkin Anda merupakan satu dari sekian banyak orang yang percaya bahwa resolusi tahun baru hanya sekadar budaya populer norak yang tidak lebih dari sebuah omong kosong dan slogan di mulut saja. Apa pun itu, sah-sah saja. Karena yang tidak boleh itu mengkritik tanpa punya karya dan ngata-ngatain ulama.

Resolusi tahun baru, nyatanya memang sering –bisa jadi selalu —  bermunculan setiap tahunnya. Entah itu sebatas celetukan dalam obrolan sehari-hari atau bahkan cuitan di Twitter yang telah diproses melalui kontemplasi. Menurut dictionary.cambridge.org, resolusi tahun baru berarti “sebuah janji untuk melakukan sesuatu yang baik atau berhenti melakukan sesuatu yang buruk yang kita buat pada awal tahun”.
Intinya, sebuah resolusi selalu menjanjikan perubahan diri menuju ke sesuatu yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Berangkat dari situ, kemudian lahir istilah turunan dengan kesan yang lebih optimistik dan sedikit narsistik yang juga sering dijadikan slogan orang-orang pada tahun baru “new year, new me”. Kira-kira maksudnya adalah di tahun baru ini, kita menjadi diri kita yang baru. Ah, lihat betapa revolusionernya pemikiran orang-orang di awal tahun.

Padahal, lagi-lagi berkaca pada kenyataan, tidak semua dan justru banyak dari resolusi tahun baru itu pada akhirnya tidak terlaksana. Kandas begitu saja terlekang oleh waktu atau termakan nasib buruk yang sebenarnya mungkin disebabkan oleh diri sendiri. Dan pada akhirnya resolusi tahun baru tidak lebih dari sekadar omong kosong.

Dalam dunia sepak bola, hal serupa bisa kita lihat pada kondisi Liverpool kini. Istilah “new year, new me” rasanya amat relevan jika disematkan kepada mereka di awal tahun ini. Tapi bukan dengan segala kesan positif, justru sebaliknya. Tim besutan Juergen Klopp itu, sejauh 2017 ini benar-benar bertransformasi menjadi entitas yang berbeda dengan Liverpool di tahun 2016.
Hingga akhir bulan Januari ini, Liverpool hanya bisa meraih satu kemenangan dari delapan pertandingan. Itupun hanya menang 1–0 melawan Plymouth yang merupakan tim divisi keempat di Inggris. Sisanya berakhir imbang tiga kali dan kalah empat kali. Di mana tiga dari empat kekalahan itu terjadi di Anfield secara beruntun melawan Swansea, Southampton, dan Wolverhampton. Wolverhampton, Bung! Charlie Adam saja bisa nyetak gol lawan mereka.

Kekalahan dari Southampton di EFL Cup dan Wolverhampton di FA Cup bahkan membuat Coutinho dkk harus legowo menerima kenyataan bahwa kemungkinan untuk meraih predikat juara pada musim ini semakin kecil, karena satu-satunya kompetisi yang masih berpeluang dimenangi hanya Premier League. Itupun peluangnya juga tidak besar. Tidak sebesar peluang menangnya salah satu paslon di Pilgub DKI tahun ini. Ya, kita tahu lah.
Pada 2016, meski tidak bagus-bagus amat, setidaknya Liverpool masih bisa menampilkan performa yang oke dan bisa mencapai dua final di dua kompetisi (EFL Cup dan Europa League). Maka resolusi tahun ini yang semestinya melampaui torehan dua final itu pun sudah dipastikan kandas.

Rekor tak terkalahkan di Anfield sejak Januari 2016 juga gagal dipertahankan. Anfield yang hampir sepanjang tahun terlihat lebih menakutkan daripada rumah hantu pasar malam itu pun kini seolah berubah menjadi tempat yang tak kalah nyaman dibanding lounge VIP di bandara LAX bagi para kesebelasan lawan.

Pemain-pemain dari kesebelasan lawan seolah hanya perlu duduk manis di garis pertahanan dengan sesekali melancarkan serangan balasan untuk mencuri tiga poin dari Anfield.

Terdengar nyaman bukan? Pokoknya tenang saja, kini para pemain Liverpool sudah tidak terlihat garang, malah sudah hampir menyerupai para anggota Oozma Kappa. Kalau tidak percaya, coba saja lihat Lovren, Clyne, Klavan, Milner, dan Sturridge di tiga pertandingan terakhir.
Kebobrokan Liverpool di awal 2017 ditenggarai tidak terlepas dari faktor tipisnya skuat musim ini. Memiliki remaja berumur 18 tahun jebolan akademi sebagai pelapis utama dari Nathaniel Clyne tentu bukan lah hal yang layak bagi tim dengan ambisi sebesar Liverpool. Hal itu membuat Clyne merasa posisinya aman karena posnya hanya diperebutkan oleh dirinya dan Alexander-Arnold yang notabene masih terlalu muda untuk dijadikan bek kanan utama.

Permasalahan yang serupa juga terjadi di beberapa sektor lainnya. Di sektor bek tengah, bek kiri, gelandang bertahan, dan satu lagi yang digadang-gadang memiliki andil besar dalam krisis mini tim ini adalah tidak adanya pelapis yang setara dengan Sadio Mane. Liverpool sangat jelas kehilangan sosok dengan kecepatan dan pergerakan –tanpa bola maupun dengan bola —  sebaik dirinya dalam tiga pekan terakhir ini.
Di sisi lain, serangan balik dan bola mati juga masih menjadi kryptonite bagi filosofi gegen-pressing-nya Juergen Klopp musim ini, bahkan sejak ia masih menangani Dortmund. Enam gol terakhir yang berhasil membobol gawang Simon Mignolet dan Loris Karius semuanya berawal dari serangan balik dan bola mati.

Padahal, dalam tiga kekalahan terakhir, Liverpool sebenarnya mendominasi pertandingan dengan catatan penguasaan bola, jumlah operan, dan penciptaan peluang yang lebih banyak. Namun, konversi penyelesaian akhir lini depan Liverpool begitu buruk.
Gaya bermain dan dominasi semu yang diperagakan para pemain Liverpool di lapangan itu lah yang sering kali memaksa kesebelasan lawan untuk menumpuk para pemainnya di belakang dan kemudian hanya mengandalkan serangan balik dan bola mati. Celakanya bagi Klopp, hingga melawan Wolverhampton, ia tidak bisa menangkalnya.

Dari kekalahan melawan Swansea, Southampton, dan Wolverhampton, seharusnya Juergen Klopp dan anak buahnya dapat memetik pelajaran. Klopp harus memiliki Plan B ketika rencana utamanya alias gegen-pressing-nya menemui kebuntuan. Jika boleh meminjam perkataan salah satu paslon Pilgub DKI, Klopp harus lebih “responsif”, jangan hanya gemar “bergerilya” namun hasilnya nol. Dan yang tidak kalah penting, tidak ada salahnya Klopp berdamai dengan idealismenya sendiri terkait keengganannya untuk mendatangkan pemain di bursa transfer Januari.
Biarlah resolusi-resolusi tahun baru itu menjadi omong kosong, dan slogan “new year, new me” yang negatif itu melekat pada Liverpool pada tahun ini. Walaupun sebenarnya agak terkesan prematur untuk mengatakan Juergen Klopp dan anak-anaknya gagal di tahun ini. Toh, di akhir musim nanti setidaknya mereka masih bisa finish di empat besar (maafkan ekspektasi ini menjadi semakin medioker).

Ah lagipula jika tahun ini Liverpool gagal pun, mereka, para penggemar Liverpool masih akan tetap percaya kalau “next year is our year”, kan?

(Ditulis oleh @Gz_ahmad. Mau protes ke dia jangan ke hardlen.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s